RASA JADI KATA

@lovepathie

Jangan bilang kamu telah mengalah kalau akhirnya kamu tetap mengeluh.

—@lovepathie

talithariesya asked: halo :) pertama saya tahu kamu dari soundcloud yang judulnya pemerhati dan itu keren banget. sukaa! eh, ketemu tumblrnya dari reblog2an temen haha langsung nge-message. Saya suka sama tulisan2mu. Salam kenal ya, semoga saya jadi tambah semangat buat nulis :D

Hai kamu! terima kasih ya :’) Praise God! semangat nulis dan terima kasih sudah membaca sekaligus mendengarkan.

Untuk Setiap Hati

Samar yang setipis kertas, di antaranya ada sebuah batas. Tidak ada peraturan yang begitu kuat untuk memisahkan antara cinta dan sebuah penyangkalan. Ketakutan punya sejuta kekuatan yang melebih-lebihi segala rasa saat ia mulai beraksi. Nyawa hati belum kembali pulih seusai ia habis-habisan disakiti oleh yang begitu ia cintai. Jika kini ia ditawari rasa yang serupa dengan apa yang dulu ada, hati hanya terlalu takut ia terburu-buru. Terlalu takut lagi-lagi ia tak berhati-hati. Caplah aku pengecut atau penakut, tapi ini upaya melindungi hati yang terlalu sering mencintai tanpa setengah-setengah. Hingga akhirnya, ia benar-benar patah.

Dulu, cinta dan bahagia begitu sederhana untuk dimiliki. Namun sejak berkali airmata menjadi pertanda tibanya si peretak hati, percayaku mulai berkurang. Kukira sosok itu ditakdirkan untuk menemukanku, tapi nyatanya meremukkan. Bukannya aku mengasingkan diri tak mau lagi dicintai, pintu itu masih akan terbuka, tapi aku perlu menyeleksi pemilik kuncinya. Cinta masih mengental, tapi luka pun terasa mengekal. Aku hanya tak ingin salah langkah. Karena pernah, cinta membuatku begitu patah. Untuk sembuh, perlu waktu yang sangat lama. Aku butuh merangkak seorang diri, meminum pil kenyataan yang begitu pahit dan menyadarkan bahwa satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah menerima.

Memang, tadinya aku tak ingin terburu-buru mendefinisikanmu sebagai calon penghuni hati. Karena ada ruangan yang pernah diobrak-abrik oleh beberapa objek masa laluku, kini perlu dirapihkan terlebih dahulu. Terlalu jahat jika ruangan tempatmu menghuni nanti masih dipenuhi sisa-sisa luka. Penyambutan yang baik adalah sebenar-benarnya mencintai dengan tanpa membawa masa lalu ikut serta. Memang, ingatan tentang beberapa peristiwa patahnya hati takkan pernah bisa terusir pergi. Tapi setidaknya aku perlu memastikan bahwa sekalipun bahagia mulai mengudara, ini bukanlah penyangkalan atau pesta sandiwara. Ini bukan perasaan sisa-sisa masa lalu. Harus ada hati yang benar-benar bahagia, atas maaf yang sepenuhnya terlaksana.

Jika belum diberikan berarti kita masih dipersiapkan dan jika kita dipersiapkan, pasti akan dipercayakan. Jadi bukan berarti saat menunggu yang terbaik, lalu kita berhenti berusaha menjadi yang terbaik. Kita tidak akan pernah sampai ke rumah yang tepat, kalau kita hanya diam di tempat. Percayalah kepada Sang Pemegang Hari Esok, karena Dia takkan membuat kita jatuh terperosok. Jangan takut, jangan khawatir, jangan cemas akan segala hal yang masih tak terprediksi, karena Tuhan sudah pegang kendali. Porsi untukmu, tidak akan pernah berlebihan dan berkekurangan. Rencana Tuhan tidak akan pernah terlambat atau terlalu awal. Sebarkanlah percaya dalam ruang hatimu, berhentilah menerka-nerka segalanya dengan pikiranmu sendiri.

Cinta masih sama. Beberapa harus menunggu sedikit lebih lama. Beberapa masih harus setia mencintai tanpa menimbang sebanyak apa yang akan diterima. Karena cinta adalah memberi, bukan sepenuhnya memiliki. Cinta masih sama. Takkan terasa tiba jika kita masih menyangkalnya. Terimalah, percayalah, bahwa segalanya akan baik-baik saja. Jika ujungnya bukan dengan dia, berarti masih ada sosok yang terbaik yang sedang dipersiapkan. Cinta masih sama. Kitalah yang harus pintar-pintar berhati-hati menjaga hati dan menikmati bahagia yang mengedar bebas di setiap arena. Cinta masih sama. Masih berteman baik dengan percaya. Karena mungkin, disaat kamu tidak lagi mencari, tidak lagi mengharapkan terlalu banyak, disaat kamu seutuhnya utuh, Tuhan akan mengirimkan penghuni istimewa itu. Bersiaplah. Kamu tidak akan bisa menelusuri jalan pikiran Tuhan kan?

Selamat menunggu saat itu tiba dan berbahagialah

Ratusan Hari Sudah Kita Lewati

Ratusan hari sudah kita lewati. Tidak ada yang terlalu lama, atau pun terburu-buru. Seharusnya seperti itu kan? Seimbang. Ratusan hari sudah kita jalani. Tepat di detik pertama kamu menemukanku, skenario Tuhan mulai bekerja dengan luar biasa. Tepat di detik pertama kamu mengetahui namaku, seolah-olah ada sebuah ijin yang kukantongi untuk mengenalmu lebih jauh. Tepat di detik pertama percakapan kita tercipta, ada alur lincah yang menari untuk membuat kita tetap terjaga dalam kata. Tepat di detik pertama, kamu memulai segalanya. Tepat di detik pertama, ada rahasia manis milik semesta yang tak pernah bisa diterka oleh kepala.

Ratusan hari sudah berlalu dari pandangan, namun doa-doa masih terus dipanjatkan untuk sebuah kebahagiaan di masa depan. Ratusan hari sudah pergi dari lintasan, hingga akhirnya aku bersyukur kalau kita telah dipertemukan. Ratusan hari pernah kita cicipi. Dan kini, dengan mudah kamu menciptakan rona pada pipi, dengan mudah kita melupa tentang hal-hal pahit yang sempat meretakkan hati, yang pernah hadir lewat spion masa lalu. Ratusan hari sudah kita tapaki, namun masih ada ketidakpastian tentang isi hati. Tentang bagaimana perasaan kita sebenar-benarnya. Satu yang aku tahu, kita adalah racikan sederhana yang telah Tuhan rencanakan. Racikan bernama kebahagiaan. Racikan yang mampu menarik lekuk-lekuk senyum siapapun yang beredar di sekeliling kita.

Permulaan itu kugarisbawahi dengan tebal. Pertemuan itu kucatat berulang-ulang. Ada sesuatu yang belum kumiliki, sudah kusyukuri, namun enggan kulepaskan. Entah kapan, sejarah kita bisa dideklarasikan di depan seisi semesta. Entah kapan, aku bisa dengan lantang mengutarakan bahwa kamulah satu-satunya. Bahwa kamulah yang aku cinta. Bahwa segala sesuatunya terasa luar biasa, sesederhana ketika kamu ada. Namun, sejak bertemu denganmu pemikiranku berubah seratus delapan puluh derajat. Ada hati yang semakin dewasa, semakin mengerti, semakin paham untuk mengolah cinta. Ada hati yang lebih tegar, lebih mempercayai bahwa Tuhan lebih ahli merencanakan segala sesuatunya. Ada hati yang libur panjang untuk bersedih dan ada hati yang sudah tak pernah ingin khawatir terhadap apapun. Karena ia percaya, segalanya akan baik-baik saja.

Aku bermimpi memiliki satu hari yang tak pernah habis kunikmati bersamamu. Satu hari yang tak pernah selesai. Satu hari yang mengandeng hari-hari lain untuk mengikat kita dalam doa. Menjaga kita dari kecewa. Menghindarkan kita dari luka. Satu hari yang membebaskan segala rasa takut. Karena bersamamu, itulah inginku. Mulailah terus mengirimkan bahagia, ciptakanlah hal-hal manis agar kepalaku tak bosan mengingatnya. Mulailah jadi yang pertama melakukan segalanya untukku dan yang terakhir yang takkan melepaskanku. Mulailah segalanya tanpa sebuah akhir. Mulailah di waktu yang tepat, di detik yang Tuhan ijinkan. Aku akan menunggu, jikalau kamu memperbolehkannya.

Aku memelukmu dalam doa

Sebuah Paket

Untuk yang telah mengirimkannya,

Sebuah paket kuterima pagi ini. Paket yang terlalu dini. Sesuatu yang tak pernah kuminta, tapi Si Pengirim lebih mengerti waktu yang paling tepat untuk memberikannya. Mungkin Dia tahu aku sudah siap menerimanya, mungkin Dia tahu kalau aku membutuhkannya. Mungkin Dia tahu kalau dua lebih baik daripada satu.

Sepaket yang jauh dari sempurna. Bingkisannya hanya dibalut oleh kesederhanaan. Diisi oleh hati yang utuh, senyuman yang mampu membuatku luluh, tawa yang membuat awan kelabu dalam hari-hariku lumpuh dan perjalanan pikirannya yang begitu ingin kutelusuri. Kabut asing yang menyelimutinya kini luput oleh sebuah perkenalan. Lewat peristiwa-peristiwa buatan Dia yang begitu magis, sekaligus manis. Ikatan-ikatan lain pun mendekatkan lewat berulang kali pertemuan. Aku hanya belum tahu kalau paket itu akan benar-benar sampai ke rumah yang tepat; hatiku.

Diatas paket itu tertulis sebuah nama yang tak asing, nama yang selalu membuat telingaku jeli saat semesta membicarakannya, nama yang begitu mudah mengirimkan kebahagiaan, nama yang membuat kekagumanku begitu pekat. Sepaket yang begitu manis sudah tiba di depanku. Satu hal yang terlintas dalam kepala saat menemukannya, “Aku ingin menjaganya”.

Terima kasih sudah mengirimkan pria ini untuk kujaga hatinya. Terima kasih sudah memilihku untuk jadi perempuannya. Terima kasih telah mempersatukan kami, Tuhan. Terima kasih karena Kau selalu mengerti, jauh lebih mengerti dari apa yang biasa kepala ini terka-terka. Terima kasih untuk paket-paket masa lalu yang pernah kau pindahkan haluan, karena kini aku sudah benar-benar menemukan yang terbaik. Terima kasih untuk cinta yang masih tersedia untuk kami berdua. Tuhan, tetaplah menjadi perantara.

Yang sedang berbahagia.

Kalau Kita Bertengkar

Untuk kamu di suatu hari yang tak terprediksi,

Cinta adalah teka-teki. Dan perjalanan hati, tidak ada yang pernah bisa memprediksi. Tidak ada yang ahli, karena cinta bisa membuat siapapun jatuh berulang kali. Esok hari, masih terlalu rahasia untuk dicicipi. Janji seolah ikatan yang tak abadi, karena siapapun bisa lupa, bisa lalai tak menjaga, pun tak mampu lagi untuk menepati. Janji seolah ketakutan bagi mereka yang tak berani mempertahankan sampai akhir. Hanya ada hati yang perlu dilatih lebih kuat, lebih berhati-hati, lebih menjaga yang dicintainya.

Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Bahkan hatiku lebih dulu memilihmu, sebelum kamu mengutarakan rasa. Mungkin sebelum perjumpaan kita, Tuhan sudah merencanakan agar kita saling mencinta. Itu adalah salah satu rahasiaNya, yang tak pernah bisa diukur dengan logika. Mungkin aku tak sering mengucapkan kalimat ini. Tapi kali ini ingin kubisikan lewat seracik aksara dalam surat yang entah kapan akan kau baca. Aku mencintaimu dan semoga akan selalu begitu. Karena sungguh aku tak bisa mengintip hari esok. Ada batas yang terlalu jauh, yang tak bisa kita tempuh.

Ketahuilah hal itu. Karena jika suatu hari lahir sebuah pertengkaran diantara kita, aku tak ingin ada rasa yang tersapu. Karena jika suatu hari kamu memalingkan wajahmu dariku, tolong jangan sangkal hatimu. Utarakan saja, keluarkan saja sesak yang menyangga hatimu, tapi jangan pergi. Jika suatu hari ada kekecewaan yang tiba-tiba mendatangi, janganlah malu untuk mengirimkan maaf terlebih dahulu. Dan jika suatu hari ada salah satu dari kita yang tak mampu mencegah luka, janganlah memilih untuk berpisah jalan. Ingatlah perjumpaan kita, perjalanan cinta dan rasa yang masih ada.

Kamu butuh menyendiri, tapi tidak dengan melepasku pergi. Kamu butuh menyembuhkan hati, tapi ijinkanlah aku yang mengobati. Jangan ijinkan gengsi untuk menghuni hati, karena aku takut ia yang akan mengusirku dari kediamanmu.

Aku mencintaimu, jangan terlalu lama membisu. Cepat peluk aku.

Perjalanan Sekaligus Pelajaran

Selamat empat belas manis,

Sebut saja cinta adalah perjalanan sekaligus pelajaran. Perjalanan tempat kita saling menemukan, pelajaran tempat kita saling mendewasakan. Setelah berulang kali jatuh cinta dan patah hati. Setelah berulang kali kamu menemukan, kemudian akhirnya melepaskan. Setelah berulang kali bersyukur atas sebuah pertemuan dan belajar atas perpisahan. Setelah berulang kali menemukan rumah, namun kamu hanya dianggap sebagai tempat singgah. Setelah kamu merasa dialah orang yang tepat, sampai kepadanyalah hatimu menutup pintu rapat-rapat.
Setelah segalanya yang terjadi, masihkah kamu percaya dengan cinta?

Namun seperti yang kukatakan, cinta adalah perjalanan sekaligus pelajaran. Aku tak pernah mendefinisikan perpisahan sebagai sebuah akhir. Dan buatku, melepaskan bukan perkara siapa yang tidak bisa bertahan. Tapi mungkin melepaskan adalah cara terbaik untuk kembali menemukan. Jika kamu belum benar-benar menemukan, berarti kamu masih ada di sebuah rel panjang. Hanya waktu yang bisa menentukan kapan kamu akan pulang. Ke sebuah rumah dan lalu menetap disana. Terlalu sering disakiti, jangan membuatmu jadi kehilangan stok persediaan ‘maaf’. Berbesar hatilah, bebaskan hatimu dari benci. Karena benci adalah penjara paling mengerikan. Aku tidak pernah menyesal atas peristiwa-peristiwa yang membuatku terluka, karena disitulah aku belajar untuk mendewasa dan menerima. Aku tidak pernah merasa segalanya akan sia-sia, karena Tuhan selalu punya rencana.

Selalu tempatkan cinta di hatimu, di ruang paling utama, tempat dimana kamu bisa menyambut calon penghunimu untuk menetap. Kamu bebas untuk merasakan cinta, menyebarkannya, membagikannya dan memilikinya. Jaga hatimu baik-baik, agar bisa suatu hari memberikan kepadanya yang terbaik. Jangan takut untuk merasakan cinta, jangan menyangkalinya dan jangan berjalan dengan spion masa lalu. Karena cinta akan selalu tiba dengan cara yang berbeda. Jangan takut untuk mengutarakannya. Bukan untuk sebuah perlombaan memenangkan hati, tapi mengapa disimpan jika memberitahu akan membuat seseorang merasa lebih bahagia?

Aku sudah lama berada dalam sebuah perjalanan. Aku pun tidak benar-benar tahu, apakah aku sudah menemukan. Tapi aku tahu, aku tidak perlu terburu-buru. Karena orang yang tepat, orang yang terbaik, sudah disiapkan oleh Tuhan. Jika kamu yang nantinya Tuhan berikan untukku, aku berjanji untuk menjagamu, mencintaimu tanpa titik henti. Kita akan berjalan maju, tanpa melirik pada masa lalu. Kita akan bahagia dan tak kuatir akan apa-apa. Satuhal yang perlu kamu tahu, dimanapun kamu berada, meski tanpa sebuah nama, tapi kepada calon priaku, kamu selalu ada dalam doa.

Semoga kita bertemu, secepatnya, setepatnya.

Without You Everything Will Be Different

Bohong jika aku sudah lega melepaskanmu. Bohong jika aku bahagia dengan ketiadaanmu. Bohong jika aku tak rindu. Bohong jika aku menyerah akan kita. Bohong jika aku tak pernah menunggu. Bohong jika aku tak mencari tahu tentang kabarmu. Bohong kalau aku mengusirmu, jika suatu hari kamu kembali untuk memulai segalanya lagi. Bohong jika stok persediaan cintaku menipis. Segalanya masih sama, masih untukmu.

Belum ada pria lain yang bisa memperbaiki, menyembuhkan atau mungkin membuatku jatuh cinta lagi. Puaskah kamu memenangkan seluruh pusat perhatianku? Kamu itu nadi, tombol penggerak dan penghenti segala kerja hati. Aku tak peduli lagi dengan gengsi, aku tak ingin lagi berpura-pura setuju dengan perpisahan ini, aku tak bisa lagi berperan seolah-olah jadi yang paling kuat. Aku tak ingin kamu hanya berdiri dan menyesali. Aku ingin kamu menghampiriku dan berbisik, “Aku telah pulang”.

Tanpamu, ada hal-hal sederhana yang kini baru kusadari terasa begitu istimewa. Aku sudah terbiasa dengan serangkaian hari kita yang penuh dengan peristiwa-peristiwa manis. Dari bertukar selamat pagi dan selamat malam sebagai pengawal dan batas usainya hari. Berlomba menjadi yang lebih rindu untuk mengajak bertemu. Atau caramu membuatku ingin selalu bermanja di bahumu dengan mengacak-acak rambutku dengan lembut. Sungguh, aku sudah terlalu terbiasa. Dan tanpamu, yang kurasa hanya hampa. Tanpamu, mereka menyoroti pandangan-pandangan aneh bahwa kita tak pernah berhasil mengikat cinta.

Benarkah? Apa tak bisa kita bantah apa yang mereka katakan? Kita memang tak berhasil, tapi bukankah kita masih saling mencintai? Aku hanya tak ingin jauh, tak ingin membiarkan orang lain mengisi hatimu, membiarkan perempuan lain mengganti posisiku di ruang pikirmu. Karena yang kuinginkan hanya aku yang dijadikan tempat pertama olehmu. Ingatlah rasa-rasa pertama kali saat kamu mulai menjatuhkan hati. Indah bukan? Mari jatuh cinta lagi, tanpa perlu harus saling menyakiti. Aku akan jadi perempuanmu, berjuang lagi dan sebisaku takkan melepaskan yang terbaik yang kupunya.

Because without you, everything will be different.

Surat Pengunduran Diri

Untuk seseorang yang pernah begitu kupahami,

Maaf kalau harus menyebutkan kata-kata ‘pernah’. Karena memang pernah dan kini tak lagi. Ada sebuah batas transparan dari dirimu yang kini tak pernah bisa kusentuh. Arena khusus yang tak lagi menyertakan aku dalam arenanya. Pikiranmu yang tak bisa lagi kuterka akan kemana tujuannya. Ada banyak hal sederhana yang kini berformula jadi rumit. Dan seolah-olah perubahan-perubahan ini membuat kita saling menyalahkan diri sendiri. Bukan salahmu, jika ada yang harus selesai di antara kita. Bukan salahku, jika tak bisa lagi meneruskan setiap rasa pertama kali yang pernah kita bagi. Ini hanya cara kita belajar bahwa memang perlu ada yang berubah. Dan biarkan waktu yang mengajari kita untuk menerimanya, ya?

Aku undur diri, atas segala rasa yang nantinya bisa memperburuk kondisi hati. Aku undur diri untuk menitipkan lagi segala rasa yang pernah dimintamu dulu. Aku undur diri untuk segala masa depan yang dulu pernah kita impi-impikan. Langkahku pelan-pelan menjauh, mungkin kenangan akan begitu riuh, tapi takkan membuat beberapa luka semakin melepuh. Maaf jika aku tak mampu lagi bertahan, dan maaf jika aku secepat ini melepaskan. Namun hal-hal pahit, harus kau cicipi lebih dulu agar kau tahu apa rasanya manis. Sesendok pelajaran sedang kita lahap bersama-sama, tentang kenyataan bahwa tak seharusnya lagi kita bersama. Lepaslah dengan rela. Karena suatu hari, kita akan sama-sama tersenyum mengingat hari ini.

Memasuki pekarangan hatimu adalah cara terbaik mengenal cinta. Dan mengundurkan diri adalah satu-satunya hal yang paling tepat untuk menjauh dari pergerakan luka. Kita akan baik-baik saja. Selamat menemukan yang lain selain aku.

Dari yang langkahnya sudah menjauhi kediamanmu.

Kamu Sudah Lebih Dari Cukup

Dengan seluruh kekaguman, surat ini aku kirimkan.

Kamu cukup tersenyum dan semudah itu aku jatuh terkagum-kagum. Kamu tak perlu menjadi pria kekar yang ada di drama-drama televisi, sesederhana itu sudah memikatku dengan ketulusan hati. Kamu memang tidak memiliki banyak seperti yang dunia unggulkan, tapi justru itu yang membuat kepadamu aku menetapkan pilihan. Kamu berbeda dan menerimaku apa adanya.

Bersamamu, aku tidak perlu menjadi orang lain. Kamu tak perlu menjadi pahlawan-pahlawan yang diidolakan oleh seisi dunia, karena kamu memiliki kekuatan khusus di mataku. Kekuatan untuk membuatku tersenyum disaat tak ada satupun yang mampu mengusir sedihku. Terlalu magis. Terlalu sederhana. Namun aku suka.

Sesederhana kamu hadir, segala kuatirku pun terusir. Dari caramu melihat dunia, dari caramu menatap realita, dari caramu menyebarkan cinta, dari caramu menggantungkan mimpi, dari cara kerja pikirmu dan dari caramu mencintaiku. Aku sungguh jatuh cinta. Kamu tak pernah berjanji, tapi selalu menyuguhkan segala yang melebihi ekspektasi. Kamu sudah lebih dari cukup. Terima kasihku takkan pernah habis-habis, karena Tuhan telah menghadirkanmu.

Terima kasih, priaku. Terima kasih.

Pengakuan

Tidak semua orang siap dengan pengakuan.

Sudah dua minggu ya? Sejak aku memberanikan diri mengutarakan segalanya. Semenjak kamu sebegitu penasarannya dengan satu rahasia yang erat-erat kujaga. Selama dua puluh satu tahun, tidak pernah aku seberani ini. Tidak pernah aku seyakin ini. Bukan hanya minta penjelasan atau kepastian, tapi di dalam hati sudah mengantri berpuluh sesak yang minta dilepaskan. Kita terlalu sering bersama-sama, membiarkan berjuta pasang mata mengira kita sepasang yang saling mencinta. Aku takut, kehilanganmu dan tak bisa membatasi diri dengan batas-batas yang seharusnya ada.

Namun malam itu, segala pikirku ditenangkan oleh sebuah kalimat yang keluar dari mulutmu. Kalimat yang samar-samar tak berdefinisi sebuah persetujuan atau petunjuk.

"Aku sayang kamu"

Dan kalimat itu berformula menjadi biang yang mengganggu kelanjutan kita. Tidak ada penjelasan yang bisa membuatku segera angkat kaki dan tidak ada persetujuan untuk dengan segera berani meletakkan hati. Semakin samar, semakin menaruh debar, semakin aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Karena sudah, sejak malam itu, sejak pengakuanku, kamu benar-benar menghilang. Kamu adalah tempat persembunyianku dari segala rasa sakit. Jika kamu pergi, bagaimana nasib hati? Apakah kamu tidak siap dengan pengakuan? Aku mohon, kembalilah jika harus kembali tanpa harus mengikat aku dan kamu menjadi sebuah kita. Tapi pergilah dengan sebuah pesan, apa yang harus aku lakukan.

Aku tak pernah siap dengan segalanya. Dengan ketakutan kalau-kalau kamu menghilang, kalau-kalau akan jadi begini. Aku tak pernah siap. Tapi aku tidak pernah lari dari apapun. Ada yang harus dilalui dengan berbesar hati. Ada masa-masa sulit yang akan mendewasakanmu. Tapi jangan lari. Sejak malam itu, segalanya memang berubah. Tapi aku berusaha untuk tidak menyesali apa yang telah kulepaskan. Karena sekarang aku lega dengan mata yang tak ditutupi oleh realita.

Aku sayang kamu. Maaf kalau membuatmu tak pernah siap dengan hal yang mengejutkan ini. Aku baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja. Dan aku harap, kamu pun juga begitu.

Kembalilah jika harus.

Pinta Sederhana

Hai!

Aku menuliskan surat ini dari desakan beberapa rasa yang tiba-tiba menyenggol ruang kerja kepala. Atau sebut saja, aku terlalu malu untuk memberitahumu bahwa aku rindu. Entah berapa juta detik lalu, mata kita pernah beradu, lalu merakam setiap gambarmu dalam retinaku. Jarak memang pendesak. Hingga kau alami irama sesak, itu pertanda bahwa rindu sudah beranak pinak. Dan kali ini aku mempersilahkan aksaraku untuk berbisik pelan lewat matamu.

"Aku rindu, kamu"

Selain jarak, bukankah kepastian juga tak pernah berpihak? Aku hanya menunggu hadiah dari Tuhan, kalau-kalau bisa sesekali dipertemukan. Aku hanya menunggu hari dari Tuhan, kalau-kalau hadirmu bisa kutemukan. Aku hanya menunggu sebuah keajaiban, bahwa Tuhan setuju bahwa kita dipersatukan. Apa itu doa yang terlalu tinggi? Apa aku sudah melayang jauh berpuluh senti dari tanah tempatku berpijak?

Aku hanya ingin mengingatkanmu, lima hari lagi empat belas manis itu tiba. Empat belas manis dimana orang-orang yang percaya cinta, merayakannya. Mungkin kamu akan melihat seorang pria asing yang duduk di sebuah restoran dengan perempuannya, bersujud dan menawarkan sebuah kotak berisikan cincin, lalu melamarnya. Seorang pria yang malu-malu karena tak pernah dicap romantis oleh dirinya sendiri pun berhasil membawakan bunga untuk perempuannya. Atau sekotak coklat yang sudah dibungkus dengan manis dan secarik surat yang seorang pria selipkan di meja kantor, calon perempuannya.

Ada banyak cara, kita pun sudah sering mendengar dan melihatnya. Tapi entah kenapa, bukan itu yang berada di prioritas inginku. Aku hanya ingin sesederhana kamu ada. Aku hanya tak ingin sebuah tiada atau kehilangan yang samar-samar akan terciptakan. Aku hanya ingin empat belas manis yang begitu sederhana bisa mendesirkan debar-debar dalam dada, karena kamu ada. Saat membuka pintu rumahku, aku tak butuh paket kejutan yang dilakukan beberapa pria untuk membuat hati perempuannya bahagia. Aku hanya ingin ada langkah kakimu yang mendekat, lalu menetap.

Boleh?

Selamat Tinggal

Ada sebuah janji yang tak pernah lagi bisa ditepati, karena kita memilih pergi. Satu yang memecahkan diri, berpisah haluan, mengucapkan selamat tinggal karena sudah menemukan kebahagiaan yang lain. Dan satunya lagi yang tersakiti, terlalu mencintai, tak terima dengan realita yang menyuguhkan luka lalu memilih untuk mengasingkan diri.

Aku tahu bahwa perpisahan selalu menyakitkan. Tapi tidak ada yang bisa mencegah kedatangannya, tidak ada yang tahu kapan ia tiba dan tidak ada yang menginginkannya. Jika saja bisa, aku mau tetap tinggal. Jika saja bisa, aku tidak ingin menyakiti siapa-siapa. Jika saja bisa, aku ingin terus bersama. Jika saja bisa, aku tidak mau ada sebuah perpisahan. Karena perpisahan itu menjauhkan. Semanis apapun, sebaik apapun bentuknya, perpisahan hanya akan mengasingkan kita. Lalu untuk apa bertemu, jika akhirnya berpisah?

Aku masih mencintaimu. Masih sampai detik dimana kamu mengecup keningku, masih sampai detik dimana kamu sibuk dengan duniamu, masih sampai detik dimana kamu berhenti memusatkan hatimu untukku, masih sampai detik dimana kamu menciptakan segitiga baru antara aku, dia dan kamu, masih sampai detik dimana kamu menghilangkan ritual-ritual manis kita, masih sampai detik dimana kakimu pelan-pelan mulai menjauh, masih sampai detik dimana kamu benar-benar berubah dan memilih pergi. Dan masih sampai detik ini, aku mencintaimu. Karena itulah hatiku begitu pedih dengan perpisahan yang tak pernah ingin kutuliskan skenarionya.

Waktu tidak pernah bisa diputar kembali. Jika kamu memilih pergi, maka pergilah dan jangan kembali. Untuk berdamai dengan kenyataan dan mengalah dengan penyangkalan, sungguh aku perlu waktu. Tapi setidaknya aku telah berani membiarkanmu pergi, merelakan agar hati tak dibuat berkeping lagi. Tentang hal yang hak patennya sudah tak bisa diubah, aku hanya bisa menerima bahwa kamu sudah tak lagi cinta. Mungkin dengan perpisahan ini, ada pertemuan lain yang sedang disiapkan. Tidak apa-apa, karena segalanya sudah dikendalikan oleh yang lebih Ahli.

"Its okay to walk out of someone’s life if you don’t feel like you belong in it anymore"

Berbahagialah. Ini bukan ritual kata yang kuucapkan sebagai salam perpisahan agar terlihat sempurna. Tapi sungguh, aku ingin kamu bahagia. Karena pernah aku melihatmu tersenyum manis, tertawa lepas, saat kita jatuh cinta dan seperti surga rasanya. Dan jika aku tak bisa lagi membuatmu seperti itu, berbahagialah dengan yang bukan aku. Jatuh cintalah lagi, karena hatimu butuh. Jika kamu telah menemukan orang yang tepat, aku berdoa agar tidak ada sebuah perpisahan. Karena sungguh, itu menyakitkan.

Aku pergi, aku akan segera menyembuhkan hati, aku akan menemukan bahagiaku sendiri.

Selamat pergi, Selamat tinggal (di hati yang lain)