Kamu
Seribu kunang-kunang kukirimkan untuk duniamu yang gelap. Kamu meraba-raba yang terbaik rupanya, tanpa tahu bahwa kamu memang terlahir buta. Kamu pikir dunia seolah meredup, miliaran pemerhati sudah tak sanggup. Tapi penglihatanmulah yang harusnya dipertanyakan, karena di duniaku masih terang. Masih ada sosokmu yang berporos di tengah-tengah sebagai pemancar. Bisik-bisik itu ramai memenuhi telinga, katanya kamu tak pernah mengenal cahaya. Bukankah sebenarnya kita saling menerangi, tapi segalanya terhenti pada kebutaanmu. Cahaya di duniamu kini mungkin berbentuk suara. Akulah cahaya transparan yang tak masuk dalam hitungan itu. Mungkin kamu buta karena kita bertukar mata.
Untuk apa bertukar, jika salah satu membiarkan luka mengakar?
Aku
Aku menelusuri hasil hati yang lolos seleksi. Penuh di dalam kepala, ter-edar sampai hati. Tapi setelah sampai, gerbang penyuara ini malah terkunci. Aku bisu. Jutaan kali aku hadir menyelamatkanmu dari muara kecewa. Tanpa suara, gerak-gerikku menyamar menjadi sebuah lapisan penghalang memar. Sekali lagi, kamu tidak pernah tahu itu aku. Kamu merasakannya, kamu mendengarkannya. Tapi setiap kali ada tangan lain yang menghampirimu ketika hati telah siap mencintai, kamu rangkul tanpa basa-basi. Berkali aku memintamu peka. Salah. Sejeli-jelinya telinga mana mungkin mengerti jika yang meminta si bisu yang tak bisa berbicara.
Dibalik diamku, ada sejuta hal-hal yang tak bisa kau jangkau dengan mata tertutup. Dan dibalik kerabunanmu, terseliplah kerapuhan hatiku. Kita sepasang buta dan bisu yang sulit menyatu tanpa bantuan hati. Tanpa suara, tanpa mata, bisakah kita bersama mengumpulkan bahagia?

Berhentilah saling menebak. Bukankah luka pada hati sudah memarak? Kapan hati saling bergerak? Atau ingin menunggu sampai kita tak lagi buta dan bisu? Jika iya, aku butuh keajaiban itu.

