@lovepathie
Ratusan Hari Sudah Kita Lewati

Ratusan hari sudah kita lewati. Tidak ada yang terlalu lama, atau pun terburu-buru. Seharusnya seperti itu kan? Seimbang. Ratusan hari sudah kita jalani. Tepat di detik pertama kamu menemukanku, skenario Tuhan mulai bekerja dengan luar biasa. Tepat di detik pertama kamu mengetahui namaku, seolah-olah ada sebuah ijin yang kukantongi untuk mengenalmu lebih jauh. Tepat di detik pertama percakapan kita tercipta, ada alur lincah yang menari untuk membuat kita tetap terjaga dalam kata. Tepat di detik pertama, kamu memulai segalanya. Tepat di detik pertama, ada rahasia manis milik semesta yang tak pernah bisa diterka oleh kepala.

Ratusan hari sudah berlalu dari pandangan, namun doa-doa masih terus dipanjatkan untuk sebuah kebahagiaan di masa depan. Ratusan hari sudah pergi dari lintasan, hingga akhirnya aku bersyukur kalau kita telah dipertemukan. Ratusan hari pernah kita cicipi. Dan kini, dengan mudah kamu menciptakan rona pada pipi, dengan mudah kita melupa tentang hal-hal pahit yang sempat meretakkan hati, yang pernah hadir lewat spion masa lalu. Ratusan hari sudah kita tapaki, namun masih ada ketidakpastian tentang isi hati. Tentang bagaimana perasaan kita sebenar-benarnya. Satu yang aku tahu, kita adalah racikan sederhana yang telah Tuhan rencanakan. Racikan bernama kebahagiaan. Racikan yang mampu menarik lekuk-lekuk senyum siapapun yang beredar di sekeliling kita.

Permulaan itu kugarisbawahi dengan tebal. Pertemuan itu kucatat berulang-ulang. Ada sesuatu yang belum kumiliki, sudah kusyukuri, namun enggan kulepaskan. Entah kapan, sejarah kita bisa dideklarasikan di depan seisi semesta. Entah kapan, aku bisa dengan lantang mengutarakan bahwa kamulah satu-satunya. Bahwa kamulah yang aku cinta. Bahwa segala sesuatunya terasa luar biasa, sesederhana ketika kamu ada. Namun, sejak bertemu denganmu pemikiranku berubah seratus delapan puluh derajat. Ada hati yang semakin dewasa, semakin mengerti, semakin paham untuk mengolah cinta. Ada hati yang lebih tegar, lebih mempercayai bahwa Tuhan lebih ahli merencanakan segala sesuatunya. Ada hati yang libur panjang untuk bersedih dan ada hati yang sudah tak pernah ingin khawatir terhadap apapun. Karena ia percaya, segalanya akan baik-baik saja.

Aku bermimpi memiliki satu hari yang tak pernah habis kunikmati bersamamu. Satu hari yang tak pernah selesai. Satu hari yang mengandeng hari-hari lain untuk mengikat kita dalam doa. Menjaga kita dari kecewa. Menghindarkan kita dari luka. Satu hari yang membebaskan segala rasa takut. Karena bersamamu, itulah inginku. Mulailah terus mengirimkan bahagia, ciptakanlah hal-hal manis agar kepalaku tak bosan mengingatnya. Mulailah jadi yang pertama melakukan segalanya untukku dan yang terakhir yang takkan melepaskanku. Mulailah segalanya tanpa sebuah akhir. Mulailah di waktu yang tepat, di detik yang Tuhan ijinkan. Aku akan menunggu, jikalau kamu memperbolehkannya.

Aku memelukmu dalam doa

Sebuah Paket

Untuk yang telah mengirimkannya,

Sebuah paket kuterima pagi ini. Paket yang terlalu dini. Sesuatu yang tak pernah kuminta, tapi Si Pengirim lebih mengerti waktu yang paling tepat untuk memberikannya. Mungkin Dia tahu aku sudah siap menerimanya, mungkin Dia tahu kalau aku membutuhkannya. Mungkin Dia tahu kalau dua lebih baik daripada satu.

Sepaket yang jauh dari sempurna. Bingkisannya hanya dibalut oleh kesederhanaan. Diisi oleh hati yang utuh, senyuman yang mampu membuatku luluh, tawa yang membuat awan kelabu dalam hari-hariku lumpuh dan perjalanan pikirannya yang begitu ingin kutelusuri. Kabut asing yang menyelimutinya kini luput oleh sebuah perkenalan. Lewat peristiwa-peristiwa buatan Dia yang begitu magis, sekaligus manis. Ikatan-ikatan lain pun mendekatkan lewat berulang kali pertemuan. Aku hanya belum tahu kalau paket itu akan benar-benar sampai ke rumah yang tepat; hatiku.

Diatas paket itu tertulis sebuah nama yang tak asing, nama yang selalu membuat telingaku jeli saat semesta membicarakannya, nama yang begitu mudah mengirimkan kebahagiaan, nama yang membuat kekagumanku begitu pekat. Sepaket yang begitu manis sudah tiba di depanku. Satu hal yang terlintas dalam kepala saat menemukannya, “Aku ingin menjaganya”.

Terima kasih sudah mengirimkan pria ini untuk kujaga hatinya. Terima kasih sudah memilihku untuk jadi perempuannya. Terima kasih telah mempersatukan kami, Tuhan. Terima kasih karena Kau selalu mengerti, jauh lebih mengerti dari apa yang biasa kepala ini terka-terka. Terima kasih untuk paket-paket masa lalu yang pernah kau pindahkan haluan, karena kini aku sudah benar-benar menemukan yang terbaik. Terima kasih untuk cinta yang masih tersedia untuk kami berdua. Tuhan, tetaplah menjadi perantara.

Yang sedang berbahagia.

Kalau Kita Bertengkar

Untuk kamu di suatu hari yang tak terprediksi,

Cinta adalah teka-teki. Dan perjalanan hati, tidak ada yang pernah bisa memprediksi. Tidak ada yang ahli, karena cinta bisa membuat siapapun jatuh berulang kali. Esok hari, masih terlalu rahasia untuk dicicipi. Janji seolah ikatan yang tak abadi, karena siapapun bisa lupa, bisa lalai tak menjaga, pun tak mampu lagi untuk menepati. Janji seolah ketakutan bagi mereka yang tak berani mempertahankan sampai akhir. Hanya ada hati yang perlu dilatih lebih kuat, lebih berhati-hati, lebih menjaga yang dicintainya.

Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Bahkan hatiku lebih dulu memilihmu, sebelum kamu mengutarakan rasa. Mungkin sebelum perjumpaan kita, Tuhan sudah merencanakan agar kita saling mencinta. Itu adalah salah satu rahasiaNya, yang tak pernah bisa diukur dengan logika. Mungkin aku tak sering mengucapkan kalimat ini. Tapi kali ini ingin kubisikan lewat seracik aksara dalam surat yang entah kapan akan kau baca. Aku mencintaimu dan semoga akan selalu begitu. Karena sungguh aku tak bisa mengintip hari esok. Ada batas yang terlalu jauh, yang tak bisa kita tempuh.

Ketahuilah hal itu. Karena jika suatu hari lahir sebuah pertengkaran diantara kita, aku tak ingin ada rasa yang tersapu. Karena jika suatu hari kamu memalingkan wajahmu dariku, tolong jangan sangkal hatimu. Utarakan saja, keluarkan saja sesak yang menyangga hatimu, tapi jangan pergi. Jika suatu hari ada kekecewaan yang tiba-tiba mendatangi, janganlah malu untuk mengirimkan maaf terlebih dahulu. Dan jika suatu hari ada salah satu dari kita yang tak mampu mencegah luka, janganlah memilih untuk berpisah jalan. Ingatlah perjumpaan kita, perjalanan cinta dan rasa yang masih ada.

Kamu butuh menyendiri, tapi tidak dengan melepasku pergi. Kamu butuh menyembuhkan hati, tapi ijinkanlah aku yang mengobati. Jangan ijinkan gengsi untuk menghuni hati, karena aku takut ia yang akan mengusirku dari kediamanmu.

Aku mencintaimu, jangan terlalu lama membisu. Cepat peluk aku.

Perjalanan Sekaligus Pelajaran

Selamat empat belas manis,

Sebut saja cinta adalah perjalanan sekaligus pelajaran. Perjalanan tempat kita saling menemukan, pelajaran tempat kita saling mendewasakan. Setelah berulang kali jatuh cinta dan patah hati. Setelah berulang kali kamu menemukan, kemudian akhirnya melepaskan. Setelah berulang kali bersyukur atas sebuah pertemuan dan belajar atas perpisahan. Setelah berulang kali menemukan rumah, namun kamu hanya dianggap sebagai tempat singgah. Setelah kamu merasa dialah orang yang tepat, sampai kepadanyalah hatimu menutup pintu rapat-rapat.
Setelah segalanya yang terjadi, masihkah kamu percaya dengan cinta?

Namun seperti yang kukatakan, cinta adalah perjalanan sekaligus pelajaran. Aku tak pernah mendefinisikan perpisahan sebagai sebuah akhir. Dan buatku, melepaskan bukan perkara siapa yang tidak bisa bertahan. Tapi mungkin melepaskan adalah cara terbaik untuk kembali menemukan. Jika kamu belum benar-benar menemukan, berarti kamu masih ada di sebuah rel panjang. Hanya waktu yang bisa menentukan kapan kamu akan pulang. Ke sebuah rumah dan lalu menetap disana. Terlalu sering disakiti, jangan membuatmu jadi kehilangan stok persediaan ‘maaf’. Berbesar hatilah, bebaskan hatimu dari benci. Karena benci adalah penjara paling mengerikan. Aku tidak pernah menyesal atas peristiwa-peristiwa yang membuatku terluka, karena disitulah aku belajar untuk mendewasa dan menerima. Aku tidak pernah merasa segalanya akan sia-sia, karena Tuhan selalu punya rencana.

Selalu tempatkan cinta di hatimu, di ruang paling utama, tempat dimana kamu bisa menyambut calon penghunimu untuk menetap. Kamu bebas untuk merasakan cinta, menyebarkannya, membagikannya dan memilikinya. Jaga hatimu baik-baik, agar bisa suatu hari memberikan kepadanya yang terbaik. Jangan takut untuk merasakan cinta, jangan menyangkalinya dan jangan berjalan dengan spion masa lalu. Karena cinta akan selalu tiba dengan cara yang berbeda. Jangan takut untuk mengutarakannya. Bukan untuk sebuah perlombaan memenangkan hati, tapi mengapa disimpan jika memberitahu akan membuat seseorang merasa lebih bahagia?

Aku sudah lama berada dalam sebuah perjalanan. Aku pun tidak benar-benar tahu, apakah aku sudah menemukan. Tapi aku tahu, aku tidak perlu terburu-buru. Karena orang yang tepat, orang yang terbaik, sudah disiapkan oleh Tuhan. Jika kamu yang nantinya Tuhan berikan untukku, aku berjanji untuk menjagamu, mencintaimu tanpa titik henti. Kita akan berjalan maju, tanpa melirik pada masa lalu. Kita akan bahagia dan tak kuatir akan apa-apa. Satuhal yang perlu kamu tahu, dimanapun kamu berada, meski tanpa sebuah nama, tapi kepada calon priaku, kamu selalu ada dalam doa.

Semoga kita bertemu, secepatnya, setepatnya.

Without You Everything Will Be Different

Bohong jika aku sudah lega melepaskanmu. Bohong jika aku bahagia dengan ketiadaanmu. Bohong jika aku tak rindu. Bohong jika aku menyerah akan kita. Bohong jika aku tak pernah menunggu. Bohong jika aku tak mencari tahu tentang kabarmu. Bohong kalau aku mengusirmu, jika suatu hari kamu kembali untuk memulai segalanya lagi. Bohong jika stok persediaan cintaku menipis. Segalanya masih sama, masih untukmu.

Belum ada pria lain yang bisa memperbaiki, menyembuhkan atau mungkin membuatku jatuh cinta lagi. Puaskah kamu memenangkan seluruh pusat perhatianku? Kamu itu nadi, tombol penggerak dan penghenti segala kerja hati. Aku tak peduli lagi dengan gengsi, aku tak ingin lagi berpura-pura setuju dengan perpisahan ini, aku tak bisa lagi berperan seolah-olah jadi yang paling kuat. Aku tak ingin kamu hanya berdiri dan menyesali. Aku ingin kamu menghampiriku dan berbisik, “Aku telah pulang”.

Tanpamu, ada hal-hal sederhana yang kini baru kusadari terasa begitu istimewa. Aku sudah terbiasa dengan serangkaian hari kita yang penuh dengan peristiwa-peristiwa manis. Dari bertukar selamat pagi dan selamat malam sebagai pengawal dan batas usainya hari. Berlomba menjadi yang lebih rindu untuk mengajak bertemu. Atau caramu membuatku ingin selalu bermanja di bahumu dengan mengacak-acak rambutku dengan lembut. Sungguh, aku sudah terlalu terbiasa. Dan tanpamu, yang kurasa hanya hampa. Tanpamu, mereka menyoroti pandangan-pandangan aneh bahwa kita tak pernah berhasil mengikat cinta.

Benarkah? Apa tak bisa kita bantah apa yang mereka katakan? Kita memang tak berhasil, tapi bukankah kita masih saling mencintai? Aku hanya tak ingin jauh, tak ingin membiarkan orang lain mengisi hatimu, membiarkan perempuan lain mengganti posisiku di ruang pikirmu. Karena yang kuinginkan hanya aku yang dijadikan tempat pertama olehmu. Ingatlah rasa-rasa pertama kali saat kamu mulai menjatuhkan hati. Indah bukan? Mari jatuh cinta lagi, tanpa perlu harus saling menyakiti. Aku akan jadi perempuanmu, berjuang lagi dan sebisaku takkan melepaskan yang terbaik yang kupunya.

Because without you, everything will be different.

Surat Pengunduran Diri

Untuk seseorang yang pernah begitu kupahami,

Maaf kalau harus menyebutkan kata-kata ‘pernah’. Karena memang pernah dan kini tak lagi. Ada sebuah batas transparan dari dirimu yang kini tak pernah bisa kusentuh. Arena khusus yang tak lagi menyertakan aku dalam arenanya. Pikiranmu yang tak bisa lagi kuterka akan kemana tujuannya. Ada banyak hal sederhana yang kini berformula jadi rumit. Dan seolah-olah perubahan-perubahan ini membuat kita saling menyalahkan diri sendiri. Bukan salahmu, jika ada yang harus selesai di antara kita. Bukan salahku, jika tak bisa lagi meneruskan setiap rasa pertama kali yang pernah kita bagi. Ini hanya cara kita belajar bahwa memang perlu ada yang berubah. Dan biarkan waktu yang mengajari kita untuk menerimanya, ya?

Aku undur diri, atas segala rasa yang nantinya bisa memperburuk kondisi hati. Aku undur diri untuk menitipkan lagi segala rasa yang pernah dimintamu dulu. Aku undur diri untuk segala masa depan yang dulu pernah kita impi-impikan. Langkahku pelan-pelan menjauh, mungkin kenangan akan begitu riuh, tapi takkan membuat beberapa luka semakin melepuh. Maaf jika aku tak mampu lagi bertahan, dan maaf jika aku secepat ini melepaskan. Namun hal-hal pahit, harus kau cicipi lebih dulu agar kau tahu apa rasanya manis. Sesendok pelajaran sedang kita lahap bersama-sama, tentang kenyataan bahwa tak seharusnya lagi kita bersama. Lepaslah dengan rela. Karena suatu hari, kita akan sama-sama tersenyum mengingat hari ini.

Memasuki pekarangan hatimu adalah cara terbaik mengenal cinta. Dan mengundurkan diri adalah satu-satunya hal yang paling tepat untuk menjauh dari pergerakan luka. Kita akan baik-baik saja. Selamat menemukan yang lain selain aku.

Dari yang langkahnya sudah menjauhi kediamanmu.

Kamu Sudah Lebih Dari Cukup

Dengan seluruh kekaguman, surat ini aku kirimkan.

Kamu cukup tersenyum dan semudah itu aku jatuh terkagum-kagum. Kamu tak perlu menjadi pria kekar yang ada di drama-drama televisi, sesederhana itu sudah memikatku dengan ketulusan hati. Kamu memang tidak memiliki banyak seperti yang dunia unggulkan, tapi justru itu yang membuat kepadamu aku menetapkan pilihan. Kamu berbeda dan menerimaku apa adanya.

Bersamamu, aku tidak perlu menjadi orang lain. Kamu tak perlu menjadi pahlawan-pahlawan yang diidolakan oleh seisi dunia, karena kamu memiliki kekuatan khusus di mataku. Kekuatan untuk membuatku tersenyum disaat tak ada satupun yang mampu mengusir sedihku. Terlalu magis. Terlalu sederhana. Namun aku suka.

Sesederhana kamu hadir, segala kuatirku pun terusir. Dari caramu melihat dunia, dari caramu menatap realita, dari caramu menyebarkan cinta, dari caramu menggantungkan mimpi, dari cara kerja pikirmu dan dari caramu mencintaiku. Aku sungguh jatuh cinta. Kamu tak pernah berjanji, tapi selalu menyuguhkan segala yang melebihi ekspektasi. Kamu sudah lebih dari cukup. Terima kasihku takkan pernah habis-habis, karena Tuhan telah menghadirkanmu.

Terima kasih, priaku. Terima kasih.

Pengakuan

Tidak semua orang siap dengan pengakuan.

Sudah dua minggu ya? Sejak aku memberanikan diri mengutarakan segalanya. Semenjak kamu sebegitu penasarannya dengan satu rahasia yang erat-erat kujaga. Selama dua puluh satu tahun, tidak pernah aku seberani ini. Tidak pernah aku seyakin ini. Bukan hanya minta penjelasan atau kepastian, tapi di dalam hati sudah mengantri berpuluh sesak yang minta dilepaskan. Kita terlalu sering bersama-sama, membiarkan berjuta pasang mata mengira kita sepasang yang saling mencinta. Aku takut, kehilanganmu dan tak bisa membatasi diri dengan batas-batas yang seharusnya ada.

Namun malam itu, segala pikirku ditenangkan oleh sebuah kalimat yang keluar dari mulutmu. Kalimat yang samar-samar tak berdefinisi sebuah persetujuan atau petunjuk.

"Aku sayang kamu"

Dan kalimat itu berformula menjadi biang yang mengganggu kelanjutan kita. Tidak ada penjelasan yang bisa membuatku segera angkat kaki dan tidak ada persetujuan untuk dengan segera berani meletakkan hati. Semakin samar, semakin menaruh debar, semakin aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Karena sudah, sejak malam itu, sejak pengakuanku, kamu benar-benar menghilang. Kamu adalah tempat persembunyianku dari segala rasa sakit. Jika kamu pergi, bagaimana nasib hati? Apakah kamu tidak siap dengan pengakuan? Aku mohon, kembalilah jika harus kembali tanpa harus mengikat aku dan kamu menjadi sebuah kita. Tapi pergilah dengan sebuah pesan, apa yang harus aku lakukan.

Aku tak pernah siap dengan segalanya. Dengan ketakutan kalau-kalau kamu menghilang, kalau-kalau akan jadi begini. Aku tak pernah siap. Tapi aku tidak pernah lari dari apapun. Ada yang harus dilalui dengan berbesar hati. Ada masa-masa sulit yang akan mendewasakanmu. Tapi jangan lari. Sejak malam itu, segalanya memang berubah. Tapi aku berusaha untuk tidak menyesali apa yang telah kulepaskan. Karena sekarang aku lega dengan mata yang tak ditutupi oleh realita.

Aku sayang kamu. Maaf kalau membuatmu tak pernah siap dengan hal yang mengejutkan ini. Aku baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja. Dan aku harap, kamu pun juga begitu.

Kembalilah jika harus.

Pinta Sederhana

Hai!

Aku menuliskan surat ini dari desakan beberapa rasa yang tiba-tiba menyenggol ruang kerja kepala. Atau sebut saja, aku terlalu malu untuk memberitahumu bahwa aku rindu. Entah berapa juta detik lalu, mata kita pernah beradu, lalu merakam setiap gambarmu dalam retinaku. Jarak memang pendesak. Hingga kau alami irama sesak, itu pertanda bahwa rindu sudah beranak pinak. Dan kali ini aku mempersilahkan aksaraku untuk berbisik pelan lewat matamu.

"Aku rindu, kamu"

Selain jarak, bukankah kepastian juga tak pernah berpihak? Aku hanya menunggu hadiah dari Tuhan, kalau-kalau bisa sesekali dipertemukan. Aku hanya menunggu hari dari Tuhan, kalau-kalau hadirmu bisa kutemukan. Aku hanya menunggu sebuah keajaiban, bahwa Tuhan setuju bahwa kita dipersatukan. Apa itu doa yang terlalu tinggi? Apa aku sudah melayang jauh berpuluh senti dari tanah tempatku berpijak?

Aku hanya ingin mengingatkanmu, lima hari lagi empat belas manis itu tiba. Empat belas manis dimana orang-orang yang percaya cinta, merayakannya. Mungkin kamu akan melihat seorang pria asing yang duduk di sebuah restoran dengan perempuannya, bersujud dan menawarkan sebuah kotak berisikan cincin, lalu melamarnya. Seorang pria yang malu-malu karena tak pernah dicap romantis oleh dirinya sendiri pun berhasil membawakan bunga untuk perempuannya. Atau sekotak coklat yang sudah dibungkus dengan manis dan secarik surat yang seorang pria selipkan di meja kantor, calon perempuannya.

Ada banyak cara, kita pun sudah sering mendengar dan melihatnya. Tapi entah kenapa, bukan itu yang berada di prioritas inginku. Aku hanya ingin sesederhana kamu ada. Aku hanya tak ingin sebuah tiada atau kehilangan yang samar-samar akan terciptakan. Aku hanya ingin empat belas manis yang begitu sederhana bisa mendesirkan debar-debar dalam dada, karena kamu ada. Saat membuka pintu rumahku, aku tak butuh paket kejutan yang dilakukan beberapa pria untuk membuat hati perempuannya bahagia. Aku hanya ingin ada langkah kakimu yang mendekat, lalu menetap.

Boleh?

Selamat Tinggal

Ada sebuah janji yang tak pernah lagi bisa ditepati, karena kita memilih pergi. Satu yang memecahkan diri, berpisah haluan, mengucapkan selamat tinggal karena sudah menemukan kebahagiaan yang lain. Dan satunya lagi yang tersakiti, terlalu mencintai, tak terima dengan realita yang menyuguhkan luka lalu memilih untuk mengasingkan diri.

Aku tahu bahwa perpisahan selalu menyakitkan. Tapi tidak ada yang bisa mencegah kedatangannya, tidak ada yang tahu kapan ia tiba dan tidak ada yang menginginkannya. Jika saja bisa, aku mau tetap tinggal. Jika saja bisa, aku tidak ingin menyakiti siapa-siapa. Jika saja bisa, aku ingin terus bersama. Jika saja bisa, aku tidak mau ada sebuah perpisahan. Karena perpisahan itu menjauhkan. Semanis apapun, sebaik apapun bentuknya, perpisahan hanya akan mengasingkan kita. Lalu untuk apa bertemu, jika akhirnya berpisah?

Aku masih mencintaimu. Masih sampai detik dimana kamu mengecup keningku, masih sampai detik dimana kamu sibuk dengan duniamu, masih sampai detik dimana kamu berhenti memusatkan hatimu untukku, masih sampai detik dimana kamu menciptakan segitiga baru antara aku, dia dan kamu, masih sampai detik dimana kamu menghilangkan ritual-ritual manis kita, masih sampai detik dimana kakimu pelan-pelan mulai menjauh, masih sampai detik dimana kamu benar-benar berubah dan memilih pergi. Dan masih sampai detik ini, aku mencintaimu. Karena itulah hatiku begitu pedih dengan perpisahan yang tak pernah ingin kutuliskan skenarionya.

Waktu tidak pernah bisa diputar kembali. Jika kamu memilih pergi, maka pergilah dan jangan kembali. Untuk berdamai dengan kenyataan dan mengalah dengan penyangkalan, sungguh aku perlu waktu. Tapi setidaknya aku telah berani membiarkanmu pergi, merelakan agar hati tak dibuat berkeping lagi. Tentang hal yang hak patennya sudah tak bisa diubah, aku hanya bisa menerima bahwa kamu sudah tak lagi cinta. Mungkin dengan perpisahan ini, ada pertemuan lain yang sedang disiapkan. Tidak apa-apa, karena segalanya sudah dikendalikan oleh yang lebih Ahli.

"Its okay to walk out of someone’s life if you don’t feel like you belong in it anymore"

Berbahagialah. Ini bukan ritual kata yang kuucapkan sebagai salam perpisahan agar terlihat sempurna. Tapi sungguh, aku ingin kamu bahagia. Karena pernah aku melihatmu tersenyum manis, tertawa lepas, saat kita jatuh cinta dan seperti surga rasanya. Dan jika aku tak bisa lagi membuatmu seperti itu, berbahagialah dengan yang bukan aku. Jatuh cintalah lagi, karena hatimu butuh. Jika kamu telah menemukan orang yang tepat, aku berdoa agar tidak ada sebuah perpisahan. Karena sungguh, itu menyakitkan.

Aku pergi, aku akan segera menyembuhkan hati, aku akan menemukan bahagiaku sendiri.

Selamat pergi, Selamat tinggal (di hati yang lain)

Yang Akhir-Akhir Ini Mengganggu Kepala

Untuk yang nantinya membaca surat ini, aku hanya ingin kamu tahu.

Akhir-akhir ini ada yang memiliki kebiasaan baru. Aku. Memikirkanmu. Kepala menerka-nerka apa yang sedang disajikan realita. Namun, aku tak mengerti. Aku tak bisa mengerti lelucon ini, atau memang selera humorku yang tidak terlalu tinggi. Mengapa kamu? Sejak kapan? Benarkah? 

Pertemuan - Perpisahan - Pertemuan, bukankah hanya seperti itu alurnya?

Tiba-tiba saja, aku terbiasa dengan adamu. Ketika hampa memenjarakanku, setepat itu kamu tiba. Bukankah dulu kita tak pernah bersentuhan dengan perasaan? Benarkah kita sudah memasuki arena ini? Rasa yang saling berpapasan, lalu nyaman dan memilih tinggal. Sebuah kosong yang dinyamankan oleh sebuah kehadiran. Namun satu sama lain tidak pernah menyadari bahwa ini bukanlah sebuah kebetulan. Atau memang hanya aku yang terjebak dalam jerat rasa yang kuperankan sendirian? 

Semua tentangmu jadi sentimentil. Aku tak mengerti mengapa aku jadi takut akan sebuah ketiadaan, kepergian dan kehilangan. Mengapa aku ingin telingamu mendengar sesuatu yang berisikan perasaan malu-malu yang kini menjadi pencipta rona pipiku. Tapi aku begitu takut kalau-kalau kamu tak miliki perasaan yang sama. Kalau-kalau harapanku saja yang terlalu tinggi. Sementara rasa semakin menebal, semakin pikiranku berlomba untuk menyangkal, takut-takut kalau kaulah yang nantinya tinggal dengan kekal. Ternyata mengingkari tak semudah ini. Aku terlalu takut jika suatu hari ada pengakuan yang nantinya akan membuat kita menjadi berjauhan. Kalau-kalau kita hanya akan jadi bahan tertawaan semesta, aku yang terlalu mudah jatuh hati dan kamu yang belum mampu mencintai. 

Seperti yang sudah-sudah, resiko bertemu adalah berpisah. Entah kapan, entah lusa, entah beberapa pekan lagi. Entah bagaimana untuk membuat segalanya baik-baik saja. Karena melangkah, takut membuat segalanya berubah dan mundur pun takut seperti mengabaikan kesempatan yang sudah ditawari. Tapi segala rasa takut hanya mimpi buruk yang bisa kau atasi dengan mempercayai segalanya saat kamu terbangun nanti. Semoga segalanya di waktu yang tepat, tanpa perlu ada yang berubah menjadi asing. Semoga segalanya tiba di waktu yang tepat, tanpa ada yang menyesali karena sudah terlambat. Semoga pertemuan kita waktu itu, bukan berujung pisah. Semoga tidak ada yang mengingkari atau saling menyakiti.

Aku-kamu, satu. 

Saling menemukan, saling menjaga, saling tak ingin berpisah

Selamat membaca, selamat merasa

Rahasia

Akhir-akhir ini ada banyak rahasia yang kusembunyikan darimu. Bukannya aku berencana merahasiakan, tapi hanya belum sempat menceritakannya. Saat kemarin malam kamu meneleponku, ingin rasanya memberitahumu beberapa peristiwa itu. Tapi kutahan, karena kamu masih asik dengan cerita kemenangan tim sepakbola keunggulanmu. Jadi bolehkah menceritakannya sekarang?

Pekan lalu, saat menonton drama musikal denganmu, aku bertemu dengan gadis kecil yang asik mengunyah gulali. Ia duduk di sampingku. Seperti yang kamu tahu, aku suka sekali anak kecil. Sekalipun buatmu beberapa dari mereka usil dan nakal. Namun bagiku, mereka hanyalah malaikat-malaikat kecil yang menggemaskan. Lalu aku memperhatikan gadis kecil itu. Gadis kecil itu lalu menatapku sambil menawarkan gulali miliknya. “Mau kak?” Aku hanya geleng-geleng sambil tersenyum menanyakan namanya. Ia berbisik pelan, “Abigail”. Tiba-tiba aku tersentak dalam hati dan ingin sekali memberitahumu. Nama kesukaanmu, nama yang nantinya akan kamu berikan kepada calon anak perempuanmu. Dan yang lebih mengejutkan lagi gadis kecil yang polos ini membentuk simbol hati dengan jemarinya dan mengeker ke arah tempat duduk kita. Aku hanya bisa tersenyum akan sebuah isyarat manis ini.

Lalu senyap dan ruangan pun jadi semakin meredup. Hingga gelap. Drama musikal pun dimulai. “Putri dan Ksatria Bintang”

Kita menikmatinya kan? Tahukah kamu hal-hal kecil yang kau lakukan selalu menjadi pusat perhatian bagi hati dan pikiranku? Semua tentangmu buatku begitu penting, sampai-sampai tak ingin melewatkannya. Kemeja jeans yang memiliki empat kancing warna putih dan satu kancing abu-abu, yang terpaksa kukaitkan karena tak ada kancing lain lagi di rumahmu, celana hitam pekat yang pernah kau pakai saat pertemuan pertama kita, dompet kulit pemberian kakak sepupumu dari Holland yang di dalamnya ada foto kecil yang menurutmu terlalu aib untuk diketahui olehku, gitar kesayanganmu yang biasa kau gunakan untuk menghipnotisku dengan lagu-lagu manis buatanmu dan jaket baseball yang pernah kau pinjami saat aku kehujanan di Bandung bulan lalu. Banyak lagi, lebih banyak lagi yang direkam kepalaku.

Jangan terkejut ya. Ada satu lagi rahasia yang akan kamu ketahui sebentar lagi. Sore ini, Tuhan mempertemukanku dengan masa lalumu. Perempuan mungil dengan mata kecoklat-coklatan, rambut lurus sebahu dengan dress berwarna pastelnya memanggil namaku dengan cukup ragu-ragu di Kafe De Rastra dekat rumah. Aku diam lima detik, lalu menyadari bahwa dialah Cantika, perempuan masa lalumu. Ia memang cantik, terlalu sempurna dibandingkan denganku. Kamu memang pernah mengenalkan kami berdua kan? Tapi sudah, sebatas ketidaksengajaan tempo hari, kami tidak pernah lagi bertemu apalagi bertegur sapa. Barulah sore ini, hujan menjebak kami berdua untuk duduk satu meja membicarakanmu.

Lucu ya. Karena selesainya sebuah hubungan, kalian berdua jadi begitu asing. Ia menanyakan kabarmu, padahal kalian sama-sama memiliki nomor satu sama lain, ia menanyakan kegiatanmu, keseharianmu. Seolah-olah dia begitu tahu bahwa duniaku kini adalah kamu. Aku tahu dia perempuan yang baik dan kamu pun. Kamu juga pernah bercerita mengapa kalian akhirnya memilih kata ‘usai’. Dalam hati kecilku, seringkali ingin menanyakan sesuatu yang konyol yang kutakutkan bisa mengganggu kepalaku dan kamu.

"Masihkah kau cinta padanya?"

Karena setahuku segalanya sudah selesai. Karena setahuku bukan tugasku untuk mengurusi pilihanmu harus menjatuhkan hati kepada siapa. Entah mengapa nama ‘Cantika’ masih begitu pekat, masih kutakutkan pada hatimu ada melekat. Tapi tak seharusnya seperti itukan? Mungkin karena diantara kita masih ada samar-samar tipis ketidakpastian. Sore ini, aku harap kamu ada. Agar aku bisa melihat lebih jelas, perasaan-perasaan yang bicara lebih keras. Tapi aku ingin mempercayakan kita pada yang lebih ahli, Tuhan misalnya. Karena memang ada yang dipertemukan untuk belajar beratnya sebuah perpisahan, Dan aku terus berharap semoga itu bukan kita. Semoga kita adalah yang bisa saling menjaga dan mempertahankan. Sore ini, seiring hujan berhenti, sebelum Cantika melangkahkan kaki. Ia menitipkan sesuatu kepadaku.

Hatimu.

Jadi, bolehkah aku menjaganya? Bolehkah aku ada disitu? Tepat di ruang hatimu. Karena ada satu rahasia lagi yang belum kamu tahu.

Bahwa aku begitu mencintaimu, pria kesayanganku.

Ini memang masih rahasia, tapi ketahuilah aku sudah bosan menyimpannya terlalu lama.

Aku Pernah Merasakannya

Untuk yang sedang merasakannya,

Berapa kali kamu dikecewakan oleh putaran waktu? Sesering apa kamu mengerti betul tentang beratnya melepaskan? Tentang perjuangan merelakan? Memiliki yang justru akhirnya berusaha melepaskan diri, berharap pada yang mengharapkan orang lain, memberikan bahagia kepada yang telah membuatmu berairmata, mematikan segala mimpi pada yang menaburkan benih-benih ekspektasi, menggugurkan ingatan tentang seseorang yang tak bisa kau lupakan, berjarak dengan dia yang kau cinta, dijadikan yang terakhir oleh yang selalu kau prioritaskan bahagianya, menjadi kuat disaat seisi dunia berusaha melemahkanmu, disodori segitiga yang membentukmu dia dan yang dicintainya.

Sakitkah? Sudah berapa lama kamu bertahan karena masih meyakinkan kepalamu bahwa harapan sedang diproduksi? Sudah berapa lama kamu menunggu dia yang sedikitpun tak pernah tahu isi hatimu? Sudah sesering apa hanya bisa melihat punggungnya pergi dan kamu hanya bisa gigit jari? Sudah sebanyak apa perban di hatimu yang kau sembunyikan? Bukankah hanya kamu yang paling tahu, bukankah selama ini menyimpannya takkan menghasilkan apa-apa selain sakit yang belaksa-laksa? Lalu untuk apa masih memperjuangkan yang sedikitpun tak pernah tahu keberadaanmu, tak pernah menginginkanmu? Memang benar tidak ada yang mustahil, memang benar kamu harus mencoba segala sesuatunya. Tapi bukan dengan mempertaruhkan hatimu kan? Selain menerima realita, mungkin kamu perlu membuka mata.

Kadang kamu harus pergi beberapa meter dari arena lukamu untuk tahu siapa yang perlu diperjuangkan dan yang perlu dilepaskan. Kadang kamu harus mencicipi sakit yang bertubi-tubi, tapi jangan hal-hal itu membuatmu lemah sedikitpun. Jangan membuat luka itu nyaman untuk beredar. Jangan menunda agar mereka bebas menyakitimu lebih lagi. Bukan salahmu, bukan salahnya, bukan salah siapa-siapa. Aku juga pernah begitu. Tapi setelah menyadari bahwa luka tak dapat diundang seijin diri kita sendiri, aku cepat-cepat mengusirnya pergi sejauh mungkin, sekeras mungkin yang aku bisa. Suatu hari, kamu akan menyadari bahwa ada orang lain yang bisa membahagiakanmu tanpa harus menciptakan luka di hatimu. Suatu hari, kamu akan menertawai seluruh rangkai airmata ini. Karena suatu hari nanti kamu akan mendewasa, kamu akan bisa melihat segala sesuatunya lebih jelas.

Tenang. Segala sesuatunya akan baik-baik saja. Segala sesuatunya sedang dikendalikan Tuhan, jika kamu mengijinkan Dia membantumu. Hari-hari berat, malam-malam yang penuh dengan tangis, hati yang pelan-pelan meretak, waktu yang semakin keras berdetak, pasti akan mengajarimu sesuatu. Dan kamu akan menyadarinya suatu hari nanti. Percayalah, karena aku pernah merasakannya.

Pecinta Senja

Bernard Batubara,

Masih sulit berhenti mencintai senja? Aku juga. Senja selalu manis, selalu menghipnotis, selalu mengingatkanku denganmu. Entah sejak kapan tepatnya aku bertemu tulisan-tulisan indahmu di dunia maya dan kemudian menjatuhkan hati pada mereka. Meski hingga kini sorot mata kita belum pernah memiliki titik temu, meski selama ini hanya bisa mengenalmu lewat racikan aksara buatan jemarimu, tapi aku percaya kamu berhati lembut. Jangan sangkali, karena itu penilaianku sendiri. Tentang sebuah pertemuan yang cukup magis dan tak terprediksi, aku bersyukur bisa mengenalmu. Tidak ada yang pernah kebetulan kan?

Kamu telah mencuri kekagumanku, Bara. Karena kamu menuliskan dunia-dunia baru yang belum pernah kujelajahi. Karena kamu menulis dengan hati. Karena kamu sering menyeretku untuk menulis lebih banyak lagi. Pasti kamu tidak mengetahui hal ini kan? Tapi percayalah, aku bukan satu-satunya orang dari tujuh puluh ribu pengikutmu di dunia seratus empat puluh karakter yang merasa seperti itu. Terima kasih sudah menulis, Bara. Jangan kurangi letupan-letupan yang membakar energi jemarimu untuk menuliskan cerita-cerita luar biasa. Jangan pernah kuatir, karena segalanya akan baik-baik saja. Jangan takut akan patah hati, karena kamu akan berterima kasih karena menemukan obat penyembuhnya. Berbahagialah.

Setelah Jakarta, akan singgah kemana lagi? Semoga sebelum kamu berkelana lagi, sebuah temu bisa kita kantongi ya. Seusai melihat potretmu kemarin malam, ingin rasanya mencubiti pipimu. Duduk dibawah senja, ilalang-ilalang yang menari dengan gemulai, bertukar tawa dan cerita, menuliskan puisi-puisi cinta, merekam kerja senja dengan dua pasang mata, menikmati detik-detik yang segera pergi dijemput oleh menit, jam dan hari. Bukankah itu menyenangkan, Bara?

Terima kasih untuk ‘hadiah’ tiket tempo hari dan pesan yang kamu selipkan di ‘Milana’ milikku. Kata adik perempuanku, kamu tampan dan gagah. Dia saja mengaggumimu, apa lagi aku? Seperti katamu bahwa, “menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran”, aku tetap akan menunggumu Bara. Aku akan menunggu senja kita. Entah kapan, tapi pasti kita akan dipertemukan. Kamu juga percaya kan?

Patricia

Ini Bukan Bunga Tidur Kan?

Priaku,

Sudah boleh memanggilmu seperti itu? Sudah boleh menggenggam tanganmu tanpa harus merasa malu-malu didepan teman-temanmu? Sudah boleh meminta temu tanpa harus merasa ragu kalau-kalau kamu takkan setuju? Sudah boleh menjadikanmu pelengkap nafasku? Sudah boleh mengaku kalau aku terlalu luluh dengan segala perlakuan manismu? Sudah boleh mengedipkan mata atas peristiwa kemarin malam? Sudah boleh memintamu untuk mencubit pipiku? Karena aku takut ini hanya bagian dari bunga tidur.

Aku pernah takut untuk memiliki lagi, karena tidak siap jika aku harus melepasnya terlalu dini. Tapi bukankah tidak pernah ada yang siap akan kehilangan? Bukankah tidak pernah ada yang meminta sebuah perpisahan? Jika padamu akhirnya hati ini dititipkan, aku berharap lebih dulu lulus untuk menjaga hatimu. Aku berharap lebih dulu bisa dipercaya saat duniamu penuh dengan kecewa. Aku berharap lebih kuat untuk menguatkanmu di hari-hari yang berat. Aku berharap bisa menjadi perempuan terbaik yang bisa menemanimu melewati hari-hari terburuk sekalipun. Aku berharap tetap akan menjadi seseorang yang kau cintai dengan cara-caramu yang sederhana. Aku berharap kita akan selalu seperti ini.

Kamu adalah jawaban dari ribuan hari aku melipat jemari, mengirimkan doa-doa kepada Tuhan. Kamu adalah hadiah yang dulu disembunyikan Tuhan saat aku lulus untuk merelakan orang-orang yang kucintai pergi. Kamu adalah sesuatu yang pernah kusangkal, pun tak kusangka-sangka adanya, namun kini terasa di dalam hati begitu kekal. Kamu tahu bahwa waktu akan selalu berputar, tapi semoga tak satupun rasa akan memudar. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain dicintai oleh orang yang kita cintai, kan? Dan hari ini adalah saksi saat kebahagiaan itu berluap-luap terproduksi oleh hati, karena sesederhana itu kamu ada disini.

Pesanku hanya satu, jangan lupa berterima kasih kepada Tuhan karena kita telah dipertemukan dan dipersatukan ya. Aku mencintaimu, priaku. Cintailah aku dengan sederhana, dengan caramu yang diluar logika, dengan ketulusan hatimu. Itu sudah lebih dari cukup.

Perempuanmu