RASA JADI KATA

@lovepathie

Saat rindu dan perasaan tak ingin melewatkan gerak-gerikmu itu bersatu, mereka seperti menahan kakiku untuk berlalu.

—@lovepathie

Anonymous asked: “Kau tahu mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Menulis adalah sebuah keberanian.”

Terima kasih :’)

Ada yang berpura-pura tidak bahagia karena tidak ingin objeknya tahu dialah penyebabnya. Dan ada juga yang berpura-pura bahagia karena tidak ingin objeknya sadar bahwa dialah penyebab luka ini menyebar.

—@lovepathie

Tian, Tuan Kesepian

Untuk Tian, Tuan Kesepian

image
Aku ingat betul percakapan kita sebelum kepergianmu. Katamu, akulah yang akan rindu padamu terlebih dahulu. Katamu, sapa-sapa itu akan keluar terlebih dulu dari mulutku. Bertolaklah dengan kataku, kupikir justru kamu yang akan begitu. Lalu, kita sama-sama meyakini diri bahwa takkan saling rindu lebih dahulu. Tapi coba lihat sekarang buktinya, siapa yang menghubungiku beberapa pekan lalu?

Selamat atas kekalahan taruhanmu. Ya, ya, ya..kau rindu. Aku tahu. Aku pun, Tian. Tapi aku menunggu kau yang mengucapkannya terlebih dahulu. Mungkin agar ada sesuatu yang bisa kau berikan padaku. Aku memang masih belum bisa menemukan hal yang tepat untuk membayar kemenanganku. Tapi mungkin sebentar lagi kepalaku menemukan solusi. Seperti ajakanmu beberapa pekan lalu, aku mau. Culiklah aku dengan syarat perjalanan yang diatas standar menyenangkan. Culiklah aku dengan cerita-cerita tentang dunia barumu yang belum terpijaki olehku. Ah tidak, aku hanya bercanda. Aku hanya begitu rindu, lamanya kita bertemu harus dirayakan dengan nada-nada bahagia yang luarbiasa seharusnya.

Hey tuan kesepian. Seseorang membisikiku beberapa waktu lalu cerita tentangmu. Hari-harimu disana nampaknya sering kelabu. Semenjak patah hatimu pada perempuan itu, masihkah kau menunggu waktu sampai ia kembali padamu? Salam untuk hatimu, cepat sembuh ya. Patah hati itu pun memang sering menghampiriku, bahkan ketika bahumu tiada lagi menopang cerita-ceritaku. Tapi kini aku lebih kuat, karena aku berdiri sendiri demi proses penyembuhan hati. Kamu pun juga begitu ya.

Jika benar secepatnya kita akan bertemu, tolong jangan mulai pertemuan kita dengan cubitan-cubitan nakal yang kau daratkan di pipiku. Tolong jangan komentari soal cerita patah hatiku dan jangan suguhi aku dengan muka lesumu. Janji ya?


Dari nona manis yang meminta pelukan erat sebagai bayaran taruhan.

Aku ingin menjadi perempuan terbaik yang bisa membantumu bertahan melewati masa-masa terburukmu.

—@lovepathie

Aku pernah sebegitu takutnya kehilangan objek masa lalu. Pada akhirnya, kehilangan tidak bisa dihindari. Inilah pelajaran menyembuhkan hati.

—@lovepathie

Kafe De Rastra

Untuk kamu yang telah mencuri perhatianku sejak dua bulan lalu,

Diantara selipan secangkir kopi, aku mengirimimu secarik surat berisikan pesan rahasia yang siap untuk kau nikmati. Apakah sapaanku mengejutkanmu? Maaf, tapi bukankah untuk jatuh cinta tidak butuh aba-aba? Selama dua bulan ini, aku diberi pekerjaan untuk mengamatimu oleh hati. Setiap pintu kayu bertuliskan “Kafe De Rasta, gudangnya sejuta rasa” mulai terbuka pukul enam kurang lima, aku pun tahu pria kesukaanku telah tiba. Tiba-tiba waktu terasa begitu penting untukku, karena hanya pada saat itulah korneaku berkesempatan menangkap banyak peristiwa tentangmu disitu. Tiba-tiba kehadiranmu menyempurnakan setiap hari-hariku. Tiba-tiba duniaku sesederhana itu bisa bertumpu padamu.

Ah, tapi cinta tak selalu menghadirkan senyuman-senyuman yang membahagiakan. Kadang kecewa terlalu cepat tiba sebelum ada lagi kelanjutan cerita. Tepatnya seminggu lalu, ketika kehadiranmu tak kunjung tiba. Aku bertanya-tanya pada semesta. Karena entahlah harus kemana lagi aku bertanya. Tak ada yang bisa disalahkan atas ketidaktahuan dan keamatiranku sebagai pemerhatimu selain cinta yang menurunkan sifat pemaluku saat jatuh cinta kepadamu. Rasanya nyaman untuk berada diseberangmu mejamu setiap hari tanpa harus menyodorkan tanganku untuk berkenalan denganmu. Itukan pemandangan terindah yang dihadiahkan Tuhan? Aku cukup menikmatinya sampai kemarin sore saat kedua sepatu kulitmu menapaki lantai Kafe De Rastra dan membawa seorang wanita. Untuk sekedar sahabat, tanganmu sudah merangkulnya terlalu erat. Untuk seorang adik, aku memperhatikan perbedaanmu saat melirik matanya. Untuk seorang teman biasa, pantaskah kata-kata ‘sayang’ kau lontarkan padanya?

Tak seharusnya memang aku menakar-nakari kelakukanmu. Tak seharusnya aku bertingkah cemburu seperti ini. Tapi begitulah cinta yang hadir tiba-tiba, yang mendesak bibirku untuk menutup perasaan ini  sebagai rahasia aku dan Pencipta saja. Bukan mauku, tapi begitulah mungkin seharusnya. Hari ini aku sengaja meninggalkan Kafe De Rastra pukul enam kurang lima belas. Aku ingin mengintip dari jendela di sebelah kananmu saat kau membaca suratku. Setidaknya, aku lega sudah tak lagi menyimpan rahasia. Setidaknya, saat kau membaca surat ini aku takkan berhenti takkan berlari dan takkan mundur kembali. Aku akan maju meski entah kemana, tapi mungkin bukan kamu arahnya. Kafe De Rastra ini terlalu manis. Tugasnya sudah selesai untuk mempertemukan kita. Selamat menjalani percintaanmu dengan dia. Mungkin aku akan berdoa pada Tuhan agar dia bisa menjagamu dengan baik. Tersenyumlah selalu, kau takkan tahu ada perempuan asing yang telah jatuh cinta dengan senyumanmu.

Jika kita berjodoh untuk dipertemukan, semoga kita berjodoh juga untuk dipersatukan. Entah kapan, tapi jika memang semoga kita bisa jatuh cinta bersamaan. Agar tak ada lagi rasa sakit tak seimbang yang salah satu rasakan.

image

Pencinta secangkir kopi dengan dua sendok gula.

Pilihanmu

Untuk manusia yang paling tak terprediksi.

Sudah lama ya kita tak menghabiskan ritual pukul lima di beranda. Dengan gitar ulungmu, tumpukan bacaanku, cerita-cerita manis yang tercipta, secangkir kopi untukmu dan teh manis hangat untukku. Hiduplah segala angan-angan pada hari-hari yang kini selalu menorehkan kenangan. Asalkan bersamamu, matilah kekuatiranku. Asalkan bersamamu, aku tak butuh apa-apa lagi. ‘Bahagia’ adalah paket lengkap pertama diatas gabungan kita berdua. Mungkin dibanding para lelaki yang pernah menghiasi hati, kamulah yang paling menyamankan aku untuk selalu mempertahankanmu di sisi. Kamulah yang tak pernah kusangka. Dan akulah yang tak pernah mengira akan terjatuh tiba-tiba padamu.

Ingatkah mimpi-mimpi yang tak terbuat atas sekedar janji? Ketika percayaku mulai rapuh, kau yang buat ketakutanku luluh. Ingatkah persoalan-persoalan yang buat wajahmu jadi gusar? Dari situlah terpecahkan dan kita mencoba sama-sama belajar. Ingatkah hujan yang pernah menghiasi pipiku? Kamulah yang mengusap aliran itu hingga lenyap. Kamulah yang meyakinkan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Senyumanmulah yang selalu mengobati luka yang segera berformula jadi duka.

Memang. Tak seharusnya padamu hatiku terjatuh. Tak seharusnya aku biarkan seluruh pusat kerja rasa menjadi lumpuh. Aku begitu payah jika harus berurusan denganmu. Aku begitu payah untuk menyadari datangnya rasa itu sebelum kehadirannya menculikmu. Aku begitu payah untuk mencegah kepergianmu. Tanganku lemah, bibirku berdaya lemah.

Tadinya aku mengira kita akan baik-baik saja. Tak mungkin secepat itu kau dibawa pergi dan meninggalkanku disini bersama sepi. Ada yang belum terceritakan, ada yang belum mendengarkan, ada yang sedang berteman dengan kesedihan dan kehilangan. Jika saja pilihanmu itu aku, pilihan kita pasti akan bertemu di titik yang satu. Tapi sayang, kenyataan terlalu jelas mengobrak-abrik pandangan. Aku harus tegap berjalan, dan menyembuhkan hati pelan-pelan. Entah sampai kapan.

Jika nanti kamu tidak bahagia, carilah aku sebagai tempat pertamamu. Dan tolong, hargai penantianku :’)

Pengisi hari-harimu (dulu)

Kembali Ke Jakarta

Lodtunduh, 29 Januari 2013

Untuk yang baru saja kutinggali,

Aku sedang bermanja dengan kesunyian, disalah satu desa di Ubud yang semudah beberapa detik bisa membuatku terlelap ketiduran. Katanya hidup ini perlu keseimbangan, maka aku memilih meninggalkanmu sebentar untuk menepi dari keramaian.

Jangan cemburu, baru beberapa waktu aku menyebrang pulau saja hati ini sudah rindu. Sungguh, aku tidak kecewa terhadap hiruk-pikuk berita duka yang menimpamu di layar kaca minggu lalu. Sungguh, bukan ini alasanku menepi darimu. Tiap malam aku berdoa pada Tuhan, agar menadahkan wadah-wadah airmata bagi langit agar tak tumpah pada kota tercintaku. Aku berdoa agar Tuhan menyembuhkan luka di dada setiap pusat kota, agar kau pun tak kena imbasnya. Aku pun selalu berdoa bagi pemegang kendali atas ibu kota ini. Aku tahu, kau sedang dipegang oleh orang yang tepat. Dua perawakan Jawa-Cina yang sangat kuhormati semoga benar-benar bisa menjagamu dengan sepenuh hati. Aku pergi hanya untuk beberapa pekan, mari kita sama-sama belajar saling merindukan.

Jakarta, dibatas waktu saat nanti kita kembali bertemu. Aku ingin menyender dibalik keramaianmu, bisa siapkan tempat untukku? Aku akan kembali secepatnya. Tunggu ya.

Penghunimu yang sedang menepi.

Aku Tidak Tahu

Kepada kamu disela-sela dunia barumu,

Aku tidak tahu bernama apa rasa ini? Aku tidak tahu betulkah rangkaian rasa ini berdefinisi cinta? Aku tidak tahu benarkah kamu objek istimewanya? Yang aku tahu, kamu tidak sepenting itu dulu. Kehadiranmu sangat menyamankanku untuk selalu berada di dekatmu. Mana mungkin segalanya tertuju padamu, jika ada orang lain yang memalingkan pandanganku waktu itu? Meski dulu kami memang tidak resmi, tapi dia seperti bisa mengisi. Tadinya memang begitu kukira. Tadinya memang begitu kurasa. Tapi ternyata tidak. Aku salah jatuh, aku salah sangka, kukira dia ternyata kamu.

Aku tak pernah sadar sepenting itu kehadiranmu bisa membuat hatiku bergetar. Tepatnya mungkin saat ada perempuan lain yang coba mendekatimu, yang pelan-pelan memalingkan wajahmu dari aku, yang memberikan sekat pembatas agar kita tak lagi memiliki hubungan erat. Meski aku belum tahu bernama apa rangkaian rasa itu, tapi aku sudah mulai merasa kehilangan kamu. Betulkah tawa itu sudah ada yang mensponsori? Betulkah hari-harimu sudah tidak lagi sepi? Betulkah tidak ada lagi harapan untukku mengisi? Betulkah sebentar lagi kau sudah ada yang memiliki?

Aku takut. Aku takut kehadiran perempuan itu bisa menghilangkan peristiwa-peristiwa sederhana yang bisa membahagiakan kita. Aku takut ada jarak kecil yang lalu perlahan-lahan membesar, hingga kita kehilangan ritual-ritual manis tanpa sadar. Tapi jikalau bahagiamu itu bersama dia, aku bisa apa? Mungkin mulai dari sekarang, aku harus berancang-ancang. Mungkin aku harus membiasakan diri untuk terlepas dari ekspektasi untuk bisa kau kumiliki.

Bisakah kusebut ini cinta ketika aku melepaskan dia dan ternyata kamu tidak memilihku, aku tidak akan menganggap semuanya sia-sia?

Aku yang masih belum mau mengaku

Telah Berhenti

Selesai.

Satu kata yang kukira adalah akhir dari segala kita. Satu kata yang nyatanya memberi bukti bahwa masih ada yang mustahil usai; namanya kenangan.

Kenangan ialah sisa-sisa ingatan yang mengakar hingga dada, masih menganggap kamu di sana. Kenangan ialah samar-samar harum tubuhmu diembus udara, masih mengira kamu tak ke mana-mana. Kenangan ialah yang menyiksa aku; yang meminta aku terus menengok ke arah yang semula ada kamu. Kenangan begitu nakal. Ia mematenkan kaki-kakinya untuk berdiam di ingatanku kekal. Mungkin ini sebuah hukuman dari kenangan. Karena dulu, air mata yang terjatuh dari pipimu selalu disebabkan oleh aku. Karena dulu, tawamu yang menyuarakan nada-nada bahagia sempat tertahan oleh keegoisanku. Karena dulu, kesalahan terfatalku adalah membiarkanmu berlalu. Hilang di makan waktu mencintai pria baru. Itu salahku, dan mungkin karma jadi makananku.

Sepayah itulah aku tak bisa menjaga ‘kita’. Sekuat itu pun juga kamu telah berusaha. Sampai hentakkan semesta menyadarkan bahwa kita tak bisa lagi seperti semula.

Terpejam mataku meninabobokan kesedihan, sementara menghindarkan aku dari kesesakkan. Namun nyatanya kedua mata yang terbuka di esok hari, menyadarkan bahwa kamu tidak lagi di sisi. Tinggi hati, kuhalangi air mata yang ingin mengalir melewati pipi. Meski secara sembunyi-sembunyi, baru aku berani mengakui bahwa aku masih mengharapkan kita untuk kembali. Salahku, mengapa dulu tidak piawai dalam menggenggam. Salahku, mengapa dulu memilih untuk diam. Salahku, mengapa dulu seakan melepasmu pergi. Sesal memang sesak. Yang tersisa hanya letup-letup kecewa namun tak mungkin membawaku ke pelukanmu yang semula. Sebelum aku benar-benar selesai menghitung langkah mundur dan mulai berjalan ke hadapan, kuingin lihat senyummu untuk terakhir kali. Senyum yang tercipta karena aku, bukan karena lelaki yang kini di sampingmu. Bolehkah? Semoga keputusanku untuk memutar arah dan melanjutkan langkah tak akan berubah.

Meski di masa depan aku tak tahu akan terjadi apa, kuharap kamu sudah kurelakan sepenuhnya. Kuharap kelak aku hanya akan mengingatmu sebagai yang indah-indah saja. Kamu masih tetap cantik. Kenangan tentangmu pun akan kujaga pada lemari memori, tertata antik. Kadang memang masih terasa sakit saat kedua telinga tak sengaja diperijinkan mendengar cerita tentangmu yang kini telah berdua. Tapi kuharap, sesal itu tak seperti rel yang mengiringi kemanapun roda-rodaku pergi. Aku ingin memindahkan perasaan ini pelan-pelan. Ke perempuan yang tepat tentunya. Melalui kamu, aku tahu cara menjaga hati. Melalu kamu aku pun tahu bagaimana rasanya sebuah ‘penyesalan’. Jika telah datang nanti perempuan istimewaku, takkan kulakukan pengulangan perlakuan.

Kini langkah kaki dan logika sepemikiran ingin melaju ke depan. Sementara kamu, tetap indahlah dalam kenangan. Sebagai sesuatu yang selama ini sudah banyak memberikan pelajaran. Sedangkan aku, mencoba memulai kembali dari sepanjang perjalanan yang sudah terlewati. Di penghujung jalan nanti, semoga tidak akan ada kesalahan kedua. Semoga tidak akan kuakhiri lagi segala usaha dan air mata dengan begitu sia-sia. Semoga tidak akan ada lagi senyuman manis yang menjadi korban. Sebab satu penyesalan lamban untuk lenyap, sedangkan seribu pengalaman tak akan juga cukup.


*bersama tim @kolaborasirasa*

Ketahuilah

Selamat pagi pria yang terakhir kali kutemui dikala hujan,

Maaf membuatmu menunggu. Ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan dahulu. Aku tahu ceramahmu bisa menerbangkan miliaran piring terbang di telingaku jika tahu pukul empat ini aku belum juga menghampirimu ke dunia mimpi. Tapi jika salah satu pekerjaanku ini adalah menulis surat untukmu, maukah menyambutku dengan senyuman termanismu jika aku tiba di pelataran mimpi nanti?

Hari ini tidak terlalu baik. Aku sedang mengurusi kepindahanku dari rumah lama bernama “masa lalu” untuk membiasakan tinggal di sebuah rumah baru, yang mungkin akan kutempati denganmu. Entahlah, aku masih belum tahu. Bukankah seburuk-buruknya rumah harus selalu bisa membawamu untuk merindukan kata “pulang”? Ya, seharusnya. Dan itu yang sedang kurasakan. Kamu adalah pria yang kini selalu bisa membuat hatiku merasa nyaman. Tapi aku terkena phobia untuk memiliki. Aku terlalu takut manisnya perasaan-perasaan yang belum terceritakan berubah saat kita saling menyakiti perlahan-lahan. Aku takut memiliki jadi media kita untuk menyakiti. Apa sebaiknya kita berjauhan dengan perasaan yang terasingkan?

Lebih baik mana tersakiti karena tak memiliki atau memiliki tapi berujung menyakiti?

Jika aku disuruh memilih, aku tidak akan memilih keduanya. Aku ingin melanjutkan senyuman-senyuman lain yang bisa kau hadirkan lewat cerita langit sore kesukaanmu. Dan semudah itu, aku pun bisa tersenyum juga untukmu. Aku ingin bersisian denganmu lagi. Lalu kita sunyi dalam keasikan sendiri mendengarkan suara-suara manis dari gerimis. Aku ingin kamu tahu, semudah kau menatap mataku, semudah kau mengajakku berlarian ditengah hujan, semudah kau mengirimkan sepaket buku kesukaan, semudah kau mengasup berbagai perhatian, semudah itu aku mulai jatuh cinta secara perlahan.

Aku tidak ingin tiap saat menyaksikan perhentian hal manis ini, lalu karena terlalu rindu dan tak mampu berkutik hanya bisa melanjutkan pertemuan dalam mimpi yang tidak pasti dijanjikan. Aku tidak ingin lenganmu yang biasa merangkulku terganti dengan posisi perempuan itu. Iya, dia yang belakangan ini berdekatan denganmu. Aku takut. Aku terlalu takut. Sebelum kita bertemu nanti, aku ingin menyiapkan hati untuk menyelipkan doa pada Pencipta. Agar lengkaplah segala usaha, agar biarlah terjadi sesuai rencanaNya. Karena kita hanya manusia yang tak punya daya.

Jangan marah ya ketika Tuhan membisikanmu pesan rahasia ini lewat mimpi

Aku yang sedang berusaha menjadi pemerhati terbaikmu.

Lewat saat-saat terberat, aku jadi tahu siapa yang layak dipanggil “sahabat”

—@lovepathie

Tidak apa-apa. Kadang untuk menjadi kuat, kita harus dilemahkan terlebih dahulu.

—@lovepathie

Sejuta Kekaguman

Hai penculik kata, pengasup inspirasi dan sumber kekagumanku, @kamga_mo

Selamat ya. Lagi-lagi kamu berhasil menculik segala aksara yang telah tertata. Entah kenapa jika semesta menyodorkan namamu, aku selalu kehilangan kata-kata untuk menuturkannya. Karena terlalu banyak, karena telah beranakpinak dan berjuta-juta hal kecil tentangmu terus-terusan berdesak. Entah kenapa untuk memulai “Hai” saat kita dipertemukan saja membutuhkan berkilo-kilo keberanian untuk menghancurkan kegugupan. Meski sudah empat tahun lebih usia persahabatan yang unik ini ada, kekagumanku akan segala tentangmu tak bisa berkurang sesenti pun grafiknya. Kamu terlalu sempurna untuk ukuran idola. Kamu selalu bisa bolak-balik membuatku bersyukur untuk kejutan atas oleh-oleh dari tiap pertemuan. Kamu selalu bisa membuatku merindukan aksi-aksi hebatmu diatas panggung saat aku berada di jarak terjauh mata untuk menyaksikannya.

Terima kasih ya untuk hadiah di trio dua belas tahun lalu. Aku bahagia sebahagia-bahagianya saat kepingan itu meluncur jadi sekumpulan nada-nada manis bagi telinga. Akhirnya aku mendengarkannya. Ada lega, haru dan bahagia yang terisi penuh pada suatu formula kata “akhirnya”. Lihatlah, begitu banyak yang mengagumi karyamu selain aku. Kekerenanmu semakin meluncur ke segala penjuru Negri dan doa-doa atas kebahagiaanmu akan selalu mengiringi. Terima kasih karena kamu masih berhasil membuatku tersenyum diam-diam semalam. Lewat gelombang radio, terseliplah ucapan khususmu atas namaku. Meski hanya karena nastar, debar ini tak dapat berlaku sebentar. Ya sepenting itu kata-katamu mampu menggeser warna abu-abu pada hariku. Sepenting itu segala tentangmu yang mungkin berkebalikan dengan tentangku padamu.

Maaf, jika kadang aku bersembunyi dibalik tempat yang paling sepi saat menceritakan kekaguman ini. Aku selalu ada disana. Mungkin jarang kehadiranku terlihat, tapi dukungan ini masih begitu pekat. Mungkin aku takkan ramai menyuarakan kekaguman, tapi ketahuilah aku akan berada disana meski jadi sosok yang paling transparan. Mungkin kini kita lebih jarang berkomunikasi, jarang bertegur sapa di dunia 140 karakter dan jarang berbagi cerita. Tapi aku masih mengetahui detil-detil tentangmu, masih menyediakan ruang besar untuk mengasup segala karya yang kau ciptakan. Jika ada tiga hal yang paling kurindukan, mungkin tulisan-tulisan ciptaan jemarimu, aksi panggungmu dan perjalanan dengan bocah-bocah lainnya sembari menghasilkan pembicaraan ngalor-ngidul yang nantinya akan terkoleksi. Jadikanlah jemarimu sapu pembersih debu-debu pada halaman yang sudah tak didiami setahun ini. Sentillah aku dengan pemikiran-pemikiran unikmu lagi, lalu berdiamlah segala inspirasi dari seluruh sudut bumi. Dan berpusat pada satu satu nama bertuliskan, Kamga.

Surat ini adalah surat yang paling sulit dimulai dan yang paling sulit kutandai telah selesai. Karena masih kepadamulah sumber kekagumanku bermuara, surat ini hanya sebagian dari aksara yang terhimpit kegugupan untuk mengatakannya.



Dari yang semalam kau sebut namanya di radio.

(salam dari Oma Kam!)