@lovepathie
I Knew I Loved You

Hari ini, aku telah sampai kepada suatu rasa; meski aku tak tahu apa namanya. Banyak yang bilang ini kagum semata, tapi hati bilang ini lebih seperti cinta. Mengenalmu aku belumlah diizinkan semesta, apalagi untuk berbagi kata-kata. Hanya bisik-bisik dari banyak bibir yang bilang betapa sempurnanya kamu, sesuai dengan debar yang tetiba datang bertamu ketikananti pandangan kita tak sengaja bertemu.

Di mataku, kamu adalah setoples kekaguman, penghantar senyuman, roda inspirasi, dan peta kebahagiaan yang melebur dalam satu rasa yang nampaknya masih begitu rahasia. Aku belum ingin mengintrogasi hati, karena masih ingin jadi pemerhati dari tirai tersembunyi. Melakoni peran sesosok yang memiliki perasaan diam-diam. Mengoleksi segala gerak-gerikmu yang selalu menyentil kornea ini. Dibalik ketidaktahuanku tentangmu, aku ingin ada di tengah-tengah pusat pencarianmu. Aku ingin ada disitu sampai kamus kepalaku penuh dengan semua tentangmu. Aku pun bingung, mengapa hati lebih dulu mengagumi padahal tak tahu ini itu tentangmu.

Segala sesuatu tentangmu di dunia yang jauh daripada nyata, seakan mampu menghibur dengan tidak biasa. Lalu secara bertahap rasa kagum hadir dengan cara yang sama. Bagaimana bisa ada rasa yang bertumbuh, sebelum tatap mata bertemu lebih jauh. Diam-diam aku mencari tahu tentang kamu, di antara kabar-kabar yang tersebar dengan lebih jitu. Diam-diam aku mengharapkan adanya sebuah temu, meski sepertinya tampak ganjil. Diam-diam kamu mengganggu di bagian hati yang paling kecil.

Yang kuinginkan, ini hanya sementara. Sebab untuk selamanya, kuinginkan kita telah bersama, saling mencipta berbagai bentuk gembira. Yang kuangankan, menjadi alasanmu menggapai bahagia. Sebab kamu telah lebih dahulu menjadi pembawa sukacita, bahkan sebelum kita menjadi nyata. Betapa ajaib sebuah rasa hingga mampu meletupkan jutaan asa di dalam dada. Sementara tentangmu saja aku masih belum tahu apa-apa. Seperti berjalan dalam gelap, namun aku tahu ke mana kaki harus melangkah. Sebab hadirmu dalam hati, sudah menjadi penerang arah.

Pada setiap kagum, ada pergerakan detak yang saling berdentum. Tanpa harus sering-sering temu kuhitung, namamu tersebar layaknya reklame di tiap sudut relung. Pada suatu detik, aku ingin naik ke suatu panggung untuk mengenalimu lebih dari sekedar melihat saat berbalik punggung. Tapi di detik yang lain, beraniku belum cukup usia untuk menampakkan apa yang sebenarnya kurasa. Entah mana yang lebih baik, berada disini selamanya tanpa kau tahu apa-apa atau memberitahumu secepatnya tentang apa yang menganjal dada? Atau lebih baik berada di antara, tunggu semesta yang menjadi pengantara?

Di balik tundukkan kepala untuk meredam segala debaran yang kurasa, ada kecil harapan supaya kita bisa saling kenal di waktu yang sesungguhnya. Di balik kagum yang diam-diam masih kusemai, ada keinginan supaya rasaku padamu akan sampai. Semesta belum mengizinkan, pun aku mungkin belum siap untuk dihadiahi sebuah pertemuan. Semisal nanti kita dipertemukan di pertengahan jalan, entah akan dengan cara apa bahagia mampu untuk kuungkapkan. Mungkinkah itu kamu, yang akan melengkapiku menjadi kita? Mungkinkah itu kamu, yang akan menjadi kuala dari segala debar dalam dada? Meski belum menjadi siapa-siapa, bukan berarti aku tak pernah ingin kita saling menyapa. Setiap kamu melintas, ada pandanganku yang tak mau lepas. Setiap kamu tersenyum, ada dadaku berdentum.

Kamu kurasa berbeda dari yang sudah-sudah. Kamu membawa begitu besar bahagia dari begitu kecil kesempatan bersama. Mengagumimu aku tak akan lelah, mengusahakan temu aku tak akan menyerah. Sebab hatimu serupa sebuah rumah, tempat aku berteduh dari penat kehilangan arah. Semoga kelak tak ada lagi keraguan untuk mendekat, ketika cinta sudah datang, kemudian kita merekat.

"I knew I loved you before I met you. I think I dreamed you into life."

I Knew I Loved You-Savage Garden

Aku dan dua perantara rasa lainnya, @estipilami dan @idrchi

Langit sedang cemburu. Katanya sejak ada kamu, aku tak pernah memandanginya selama dan semesra dulu.
    Lebih baik aku disakiti berkali-kali dari pada menyakitimu meski hanya sekali.
    Berlarilah sejauh hatimu ingin menjauh. Jika kau menginjakan kaki kembali, berarti teori ‘kekekalan rasa’ mulai terbukti.
Seandainya ada pengendali hati untuk tidak menyakiti. Mungkin takkan ada pecahan-pecahan hati sebanyak ini.
Mata angin

Mataku seperti kompas. Ia sedang mengarahkan tujuan ke tempat dimana rindu bisa terlepas.

Di utara, hanya ada sepenggal kisah dan kenangan yang tersisa.

Di timur, justru ada koleksi luka yang berbujur. Cukup, aku malas membaur.

Di barat, sosok yang kucari tak terlihat. Hati mulai sekarat. Hujan kecewa mulai terasa lebat.

Sepertinya aku kelelahan jika harus pergi lagi ke selatan. Bagaimana jika rindu tak bisa terpulangkan? Bagaimana jika aku tersesat di tengah jalan? Lalu kemana aku harus pulang? Mana jawaban? Mana hadiah dari perjalanan? Pertanyaan-pertanyaanku seperti bertepuk sebelah tangan, mungkin hanya aku yang boleh menentukan jawaban dari setiap isi pertanyaan. Aku pun hanya bisa menyetujui hasil diskusi pikiran dan hati. Hati menang lagi. Suaranya selalu bisa membuat logika terpeleset jatuh, hingga gengsi dan perasaan-perasaan pengganggu lainnya runtuh. Jika mata angin memang benar hanya ada empat, selatan maka akan jadi tempat terakhir yang akan kupijaki.

Aku tiba, tapi tidak ada apa-apa.

Tiba-tiba rindu bergerak dari tempat yang kukira sudah retak, mataku terbelalak. Ini Selatan, objek itu hanya bersembunyi pada tempat yang tak kelihatan. Dia ada, rindu bahagia. Hati tak usah ditanya. Mata angin terakhir, membuat tak ingin pertemuan ini berakhir. Aku tak ingin pulang, aku tak ingin tahu caranya pulang. Aku ingin tersesat disini saja, dimana objek itu berada.

Di selatan, aku telah menemukan. Perlu waktu untuk mataku tersadarkan, perlu waktu untuk tetap sabar menunggu.

Ini perjalanan. Jika kamu belum menemukan, jangan terburu-buru untuk segera pulang. Seperti aku, mungkin terlebih dulu harus mengikuti alur agar tahu bagaimana caranya sabar terulur. Nanti jika waktu sudah tahu caranya menunjukkan jalur, rindu pun akan segera terkubur. Mata anginmu tersebar luas, bergegaslah berpergian mencari tempat agar rindu bisa terlepas.

Entah

Ada segaris panjang hela menyusup lewat dada.

Ada jeda yang terlahir sempurna sebagai perantara.

Ada protes panjang telinga yang menganggap ini hanya keonaran saja.

Ada musikalisasi bebunyian kecewa dari kita yang berpura baik-baik saja.

Ada bias-bias luka yang mulai hadir seperti kaca disaat kaki melangkah kemana saja.

Ada tiada yang di agung-agungkan mereka, tentunya karena cemburu pada kebersamaan kita.

Aku hanya terdiam, begitu pun kamu yang bungkam.

Jika lebih baik menyeka tangis sendiri-sendiri, bahagia yang pernah kau pernah berikan dulu hilangkah di sakuku? Kemana mereka? Ada apa dengan kita?

E n t a h

Percayalah

Ada yang diam-diam ingin disapa olehmu. Percayalah.

Ada yang mengharap pertemuan kedua, setelah matamu mendarat di matanya, tanpa aba-aba. Ada yang setiap hari terbangun buru-buru, demi sebuah frasa ‘Selamat pagi’ dari bibirmu. Ada yang tak pernah berhenti mencatat. Sebab, setiap kalimatmu adalah peta. Ia tak mau tersesat.

Ada mata yang berbinar sempurna dalam tunduk sipu, tiap kau sebut sebuah nama, miliknya. Ada yang mengembangkan sesimpul lengkung di bibirnya, di balik punggungmu, malu-malu. Ada yang memilih terduduk saat jarakmu berdiri dengannya hanya beberapa kepal. Lututnya melemas, tiba-tiba. Ada yang tak pernah melepas telinganya dari pintu. Menunggu sebuah ketukan darimu.

Ada yang dadanya terasa berat dan kau tak pernah tahu, saat kau tak tertangkap matanya beberapa waktu. Ada yang pernah merasa begitu utuh, setelah kaki-kaki menjejak jauh darinya. Sekarang, runtuh.

Ada yang diam-diam mendoakanmu, dalam-dalam.

Percayalah.

(Source : Beberapa Hal yang Mesti Kau Catat lalu Kau Baca saat Merasa Sendiri - @NDIGUN)

(Source: ndigun.wordpress.com)

    Aku baru saja memimpikan kita. Kuharap itu bukan sekedar asa, tapi cita-cita yang nantinya akan berubah menjadi nyata.
Seni Mencinta

Ada yang berbeda, ketika mata kita saling bertemu di titik yang sama. Ada yang bergetar tanpa mengenal irama, kala sesungging senyum melebar, meski entah dipersembahkan untuk siapa. Pintu yang sudah tertutup entah siapa yang mengetuk, namun aku hanya berkeinginan untuk mempersilakanmu masuk.

Kamukah itu, sosok yang selama ini aku tunggu-tunggu? Kamukah itu, pelabuhan di mana kita semestinya bertemu?

Ini baru pertemuan pertama, tapi hati seperti yakin hanya kamulah yang bisa membuatku tak ingin berjauhan lama-lama. Ini baru pertemuan pertama, tapi aku sudah menantikan pertemuan berikutnya. Ini baru pertemuan pertama, tapi kamus dikepala sudah ingin mengisi definisi-definisi tentang segala yang kau suka. Ini baru pertemuan pertama, tapi langkah kaki sudah ingin menuju ke tempat dimana kau berada. Aku bahagia tentang hadirmu yang tiba-tiba ada. Pelan-pelan akan kuordinasikan hati agar tak terlalu tinggi berekspektasi, tapi tetap menyeimbangkan percaya agar tetap tinggal di hati.

Ini salah satu ketidaksengajaan yang di rencanakan Tuhan kan?

Aku bukan yang terlalu piawai tentang cinta, seperti belum juga sepenuhnya mengerti tentang apa yang sedang kurasa. Namun kehadiranmu sudah menjadi salah satu yang selalu kutunggu-tunggu. Pertemuan kita di kali kedua adalah yang kerap kudamba-damba. Jika kita bertemu nanti, akankah semesta menciptakan kesan yang baik bagi masing-masing hati? Jika kita bertemu nanti, akankah kebahagiaan yang akan kita bawa saat pulang nanti? Aku berhenti untuk menggantungkan mimpi tinggi-tinggi, karena sadar aku bukanlah sosok yang mengerti bagaimana caranya jatuh dengan hati-hati.

Pawai cinta sedang marak-maraknya di kepala. Sekali namamu terbisik, rindu pun ikut mengusik. Pantaskah rindu kumiliki pada seorang yang ada dalam sekali temu? Tapi bukankah rindu itu tak mengenal frekuensi waktu sesering apa kita hadir dalam temu, dan selama apa aku mengenalmu? Bukankah rindu itu makanan rakyat jelata, tanpa ada status sosial yang membeda-bedakan strata? Jikalau saja bisa bernego dengan peri waktu, aku ingin Ia menghentikan jarum-jarum yang berlarian itu saat aku bersamamu. Pasti itu adalah kado termanis yang bisa dihadiahkan untukku. Tapi semesta lebih pandai dalam menguntai cerita soal cinta.

Beginilah esensi seninya perjalanan cinta, aku ingin kita perlahan-lahan menikmatinya

Kepada waktu, kutitipkan percaya tanpa sedikitpun ragu. Karena aku yakin, ia yang paling tahu kapan saat yang tepat untuk kita bertemu. Sementara senyum yang akan sedikit tersamarkan dan degup yang pastinya tak karuan kuserahkan kepada semesta. Aku tahu, ia yang paling ahli dalam mempertemukan dua hati untuk melangkah bersama. Jika ada kesempatan untuk bertemu lagi, semoga Sang Maha mengizinkanku untuk berbenah diri sehingga ke hidup ini kamu dapat dengan leluasa menjejakkan kaki. Serupa anak kecil yang paling gemar menunggu kejutan, seperti itu semestinya kita menjalani kehidupan. Maka dari itu tidak perlu aku menduga-duga akan masa depan, karena memberikan kejutan itu merupakan kesenangan Tuhan.

Dari dua jemari yang sedang merasakan esensi seninya cinta, dari dua hati yang sedang bahagia atas rasa teristimewa yang Tuhan titipkan,

@lovepathie dan @estipilami.

Selamat jatuh cinta, para pecinta.

Bahagia Tanpa Kita

Kusebut kita calon masa depan, ketika rasa ini kurasa saling berbalasan. Namun itu telah menjadi masa lalu. Sebab kini, yang ada tetap saja aku dan kamu tanpa ada rencana lagi menjadi ‘kita’ di situ. Kita pernah hampir bersama, kemudian takdir ternyata tak berjalan sebagaimana mestinya. Dan sedih adalah usaha yang percuma, sebab air mata nyatanya tak cukup kuat memanggil sebuah nama; namamu. Kukira kalenderku akan penuh dengan cerita-cerita yang terisi oleh kita. Tapi nyatanya terlewati begitu saja tanpa sebuah kata bernama kita. Hanya kenangan tersisa sebagai kota lama, tanpa bisa lagi kuracik jadi buah tangan untuk masa depan.

Tidak ada yang memulai, pun belum ada yang selesai.

Cerita kita hanya sebatas pemanis di negri utopia. Aliran air mata kini sampai tersumbat karena kode yang melahirkan kekecewaan sudah berkembang pesat. Aku tak ingin hati semakin melarat, seperti tak ada cinta tersisa untuk kupegang erat. Mungkin sesak akan berganti menjadi tawa lepas yang beranak pinak. Soal siapa si pemilik obat-obatan penyembuh hati, aku pun masih belum tahu pasti. Tapi yang kutahu, kecewa tak boleh lama-lama hinggap di bahu. Pintu hati harus kubukakan untuk objek baru itu. Kesedihan tak boleh kupelihara berlama-lama, lalu hanya tumbuh seiring dengan hati yang semakin merana.

Kamu pun sudah tak semestinya kupertahankan. Karena bukankah kita hidup untuk selangkah demi selangkah kebahagiaan?

Aku tidak mau menghadiahkan sekotak kisah-kisah menyedihkan untuk aku yang di masa depan. Aku tak mau hanya akan menjalani hari-hari dengan air mata. Karena tidak semua rasa akan dijemput dengan sosok yang sempat dipikirkan dalam benak, maka tak apa jika untuk kita semesta memilih tidak. Aku tidak memilih untuk menunggu lalu semakin akrab dengan waktu. Karena yang tidak diperuntukkan untuk kita, bukankah seharusnya tidak perlu dipaksa? Jika kelak datang kesempatan untuk kembali merajut yang telah berusaha kita lupakan, mungkin saja aku menolak. Bukan karena aku tak cukup cinta, namun aku lebih memilih jalan lain yang benar-benar dikehendaki semesta. Tentang segala indah yang pernah kita cipta bersama, tak pernah kubuang percuma. Selalu kusyukuri sebagai bahagia yang mampir meski hanya sementara.

Memang tak ada yang mudah dari mengikhlaskan, namun akan sulit pula jika dipaksa untuk kuteruskan. Sebab jika kamu memang untukku, Tuhan akan mempermudah jalan ke arah situ. Dan jika usahaku telah sampai di titik tertinggi, namun cinta tetap tak bisa kamu beri, mungkin inilah waktu yang tepat untuk pergi. Pergi untuk menemukan yang memang seharusnya kumiliki. Lewat pusaran waktu, aku meninggalkan semua peduli beralamatkan kamu disitu. Di sebuah kota kenangan yang mungkin penuh dengan namamu seperti debu, ceritaku seperti dedaunan layu. Tapi tak apa, memang hati tak boleh terlalu lama dibiarkan pura-pura buta dan pura-pura tuli.

Lepaskan hati seperti kuda liar, biarkan cinta tanpa lapisan semu yang ia kejar. Hati hanya perlu belajar membukakan yang rela menunggu masuk di depan pagar. Lalu nanti terjadilah seleksi hati dan diri, beragam rasa baru yang lahir akan segera kucicipi. Cerita cinta itu mungkin tak seindah lukisan, tapi kita bisa jadi pelukis bagi kanvas kita sendiri. Karena bahagia itu dimulai selangkah saat kita melepas yang membuat kita terluka. Kesalahan membuat kita tersadar bagaimana caranya menjadi lebih benar. Aku bukan berbicara tentang kamu, tapi ini tentang pilihanku ketika memilih dan memilah langkah. Pada kamu, yang kutemukan hanyalah jalan buntu hingga sepatutnya aku mencari yang baru.

Aku percaya, Tuhan lebih tahu yang terbaik. Maka itu, aku mundur dan memutar arah balik. Hingga pada cinta yang menyenangkan aku akhirnya dipertemukan—kami dipertemukan. Lihatlah, betapa semesta selalu bisa menorehkan senyuman. Hanya kadang aku yang terlalu sering mencari-cari kesedihan. Pada kenyataannya, kita memiliki jalan yang berbeda. Maka dari itu, selamat berbahagia meski bahagia tidak perlu melulu tentang kita. Tuhan selalu membagi rata bahagia; tak mungkin pada hatimu diberikan, namun di hatiku porsinya dikurangkan. Mungkin aku hanya perlu bersabar, sebab sesuatu memang hanya akan datang ketika kita membutuhkan, bukan ketika diinginkan. Dan kuyakin, yang kubutuhkan kini adalah pelajaran dari cinta yang tak berakhir sejalan. Agar kelak, ketika hati telah didewasakan kenyataan, cinta yang baru akan lebih baik untuk kuberi pelan-pelan.

Bersabarlah, terkadang kita memang harus tahu rasanya kehilangan, agar kelak lebih mampu menjaga ketika Tuhan memberi penggantinya.


Aku, Esti, Indri.

Ilusi

Tak-tik semestakah ini?

Rindu memang pintar merayu, tapi rasanya mustahil jika ia bisa menghadirkan objek pengisi hati yang tahunan absen dalam temu. Ya, kamu. Mataku seperti de-javu berkali-kali melihatmu disini. Kelilipan bayangmu kah? Atau mesin waktu memang benar ada di jamanku? Mungkin ini ilusi, mimpi atau minus mataku terlalu tinggi. Mungkinkah dulu tembok hatiku terpenuhi oleh pigura gambarmu, hingga kini susah untuk menyapu detil-detil kecil tentangmu dari korneaku?

Jawabku hanya satu. Tidak tahu.

Tanpa suara, tanpa kedipan mata, tanpa nafas bahagia, tanpa gerak, kau seakan berdiri di depan kornea tanpa nyawa. Aku pun hampa. Lebih hampa dari biasanya, dari sebelum hatiku selesai menata semuanya lalu kau tiba disini seperti bagian dari ilusi. Mungkin, aku pernah bilang takkan bertanya “Kemana saja kau selama ini?” jika kau tiba disini. Tapi sepertinya selain menculikmu, waktu telah menculik sesosok baru sebagai penggantimu. Rindu masih ada. Tapi bukan berarti dengan oleh-oleh wajah tak bahagia dengan perempuanmu, hati akan kembali iba. Tidak kembali adalah tombol utama pencegah sakit hati. Aku tak mau hanya jadi perempuan sementara layaknya rel kereta yang kau lalui saat belum tiba di stasiunmu.Aku punya dia yang harus kujaga hatinya, setidaknya aku tak ingin berkarma dengan melukainya. Semoga cina tetap berjalan pada porosnya.

Selamat menutup hati-aku, selamat pergi ke tujuan baru-kamu. 

Dari perbatasan ilusi, aku sadar hati telah benar-benar menyembuhkan diri dan bebas dari penyangkalan saat ia mengerti harus menolakmu untuk kembali.

    Sesuatu yang benar-benar datang dari hati, seharusnya tidak diulang berkali-kali. Karena yang diulang berkali-kali maknanya semakin pergi.
    Menghilang adalah salah satu jurus untuk dirindukan. Tapi lama-lama menghilang justru bisa membuatmu lama-lama tersingkirkan.
    Dari ‘ada’ jadi ‘tidak ada’. Dari ‘biasanya’ jadi ‘biasa saja’. Disitulah kehilangan dilahirkan.