RASA JADI KATA

@lovepathie

Yang Akhir-Akhir Ini Mengganggu Kepala

Untuk yang nantinya membaca surat ini, aku hanya ingin kamu tahu.

Akhir-akhir ini ada yang memiliki kebiasaan baru. Aku. Memikirkanmu. Kepala menerka-nerka apa yang sedang disajikan realita. Namun, aku tak mengerti. Aku tak bisa mengerti lelucon ini, atau memang selera humorku yang tidak terlalu tinggi. Mengapa kamu? Sejak kapan? Benarkah? 

Pertemuan - Perpisahan - Pertemuan, bukankah hanya seperti itu alurnya?

Tiba-tiba saja, aku terbiasa dengan adamu. Ketika hampa memenjarakanku, setepat itu kamu tiba. Bukankah dulu kita tak pernah bersentuhan dengan perasaan? Benarkah kita sudah memasuki arena ini? Rasa yang saling berpapasan, lalu nyaman dan memilih tinggal. Sebuah kosong yang dinyamankan oleh sebuah kehadiran. Namun satu sama lain tidak pernah menyadari bahwa ini bukanlah sebuah kebetulan. Atau memang hanya aku yang terjebak dalam jerat rasa yang kuperankan sendirian? 

Semua tentangmu jadi sentimentil. Aku tak mengerti mengapa aku jadi takut akan sebuah ketiadaan, kepergian dan kehilangan. Mengapa aku ingin telingamu mendengar sesuatu yang berisikan perasaan malu-malu yang kini menjadi pencipta rona pipiku. Tapi aku begitu takut kalau-kalau kamu tak miliki perasaan yang sama. Kalau-kalau harapanku saja yang terlalu tinggi. Sementara rasa semakin menebal, semakin pikiranku berlomba untuk menyangkal, takut-takut kalau kaulah yang nantinya tinggal dengan kekal. Ternyata mengingkari tak semudah ini. Aku terlalu takut jika suatu hari ada pengakuan yang nantinya akan membuat kita menjadi berjauhan. Kalau-kalau kita hanya akan jadi bahan tertawaan semesta, aku yang terlalu mudah jatuh hati dan kamu yang belum mampu mencintai. 

Seperti yang sudah-sudah, resiko bertemu adalah berpisah. Entah kapan, entah lusa, entah beberapa pekan lagi. Entah bagaimana untuk membuat segalanya baik-baik saja. Karena melangkah, takut membuat segalanya berubah dan mundur pun takut seperti mengabaikan kesempatan yang sudah ditawari. Tapi segala rasa takut hanya mimpi buruk yang bisa kau atasi dengan mempercayai segalanya saat kamu terbangun nanti. Semoga segalanya di waktu yang tepat, tanpa perlu ada yang berubah menjadi asing. Semoga segalanya tiba di waktu yang tepat, tanpa ada yang menyesali karena sudah terlambat. Semoga pertemuan kita waktu itu, bukan berujung pisah. Semoga tidak ada yang mengingkari atau saling menyakiti.

Aku-kamu, satu. 

Saling menemukan, saling menjaga, saling tak ingin berpisah

Selamat membaca, selamat merasa

Rahasia

Akhir-akhir ini ada banyak rahasia yang kusembunyikan darimu. Bukannya aku berencana merahasiakan, tapi hanya belum sempat menceritakannya. Saat kemarin malam kamu meneleponku, ingin rasanya memberitahumu beberapa peristiwa itu. Tapi kutahan, karena kamu masih asik dengan cerita kemenangan tim sepakbola keunggulanmu. Jadi bolehkah menceritakannya sekarang?

Pekan lalu, saat menonton drama musikal denganmu, aku bertemu dengan gadis kecil yang asik mengunyah gulali. Ia duduk di sampingku. Seperti yang kamu tahu, aku suka sekali anak kecil. Sekalipun buatmu beberapa dari mereka usil dan nakal. Namun bagiku, mereka hanyalah malaikat-malaikat kecil yang menggemaskan. Lalu aku memperhatikan gadis kecil itu. Gadis kecil itu lalu menatapku sambil menawarkan gulali miliknya. “Mau kak?” Aku hanya geleng-geleng sambil tersenyum menanyakan namanya. Ia berbisik pelan, “Abigail”. Tiba-tiba aku tersentak dalam hati dan ingin sekali memberitahumu. Nama kesukaanmu, nama yang nantinya akan kamu berikan kepada calon anak perempuanmu. Dan yang lebih mengejutkan lagi gadis kecil yang polos ini membentuk simbol hati dengan jemarinya dan mengeker ke arah tempat duduk kita. Aku hanya bisa tersenyum akan sebuah isyarat manis ini.

Lalu senyap dan ruangan pun jadi semakin meredup. Hingga gelap. Drama musikal pun dimulai. “Putri dan Ksatria Bintang”

Kita menikmatinya kan? Tahukah kamu hal-hal kecil yang kau lakukan selalu menjadi pusat perhatian bagi hati dan pikiranku? Semua tentangmu buatku begitu penting, sampai-sampai tak ingin melewatkannya. Kemeja jeans yang memiliki empat kancing warna putih dan satu kancing abu-abu, yang terpaksa kukaitkan karena tak ada kancing lain lagi di rumahmu, celana hitam pekat yang pernah kau pakai saat pertemuan pertama kita, dompet kulit pemberian kakak sepupumu dari Holland yang di dalamnya ada foto kecil yang menurutmu terlalu aib untuk diketahui olehku, gitar kesayanganmu yang biasa kau gunakan untuk menghipnotisku dengan lagu-lagu manis buatanmu dan jaket baseball yang pernah kau pinjami saat aku kehujanan di Bandung bulan lalu. Banyak lagi, lebih banyak lagi yang direkam kepalaku.

Jangan terkejut ya. Ada satu lagi rahasia yang akan kamu ketahui sebentar lagi. Sore ini, Tuhan mempertemukanku dengan masa lalumu. Perempuan mungil dengan mata kecoklat-coklatan, rambut lurus sebahu dengan dress berwarna pastelnya memanggil namaku dengan cukup ragu-ragu di Kafe De Rastra dekat rumah. Aku diam lima detik, lalu menyadari bahwa dialah Cantika, perempuan masa lalumu. Ia memang cantik, terlalu sempurna dibandingkan denganku. Kamu memang pernah mengenalkan kami berdua kan? Tapi sudah, sebatas ketidaksengajaan tempo hari, kami tidak pernah lagi bertemu apalagi bertegur sapa. Barulah sore ini, hujan menjebak kami berdua untuk duduk satu meja membicarakanmu.

Lucu ya. Karena selesainya sebuah hubungan, kalian berdua jadi begitu asing. Ia menanyakan kabarmu, padahal kalian sama-sama memiliki nomor satu sama lain, ia menanyakan kegiatanmu, keseharianmu. Seolah-olah dia begitu tahu bahwa duniaku kini adalah kamu. Aku tahu dia perempuan yang baik dan kamu pun. Kamu juga pernah bercerita mengapa kalian akhirnya memilih kata ‘usai’. Dalam hati kecilku, seringkali ingin menanyakan sesuatu yang konyol yang kutakutkan bisa mengganggu kepalaku dan kamu.

"Masihkah kau cinta padanya?"

Karena setahuku segalanya sudah selesai. Karena setahuku bukan tugasku untuk mengurusi pilihanmu harus menjatuhkan hati kepada siapa. Entah mengapa nama ‘Cantika’ masih begitu pekat, masih kutakutkan pada hatimu ada melekat. Tapi tak seharusnya seperti itukan? Mungkin karena diantara kita masih ada samar-samar tipis ketidakpastian. Sore ini, aku harap kamu ada. Agar aku bisa melihat lebih jelas, perasaan-perasaan yang bicara lebih keras. Tapi aku ingin mempercayakan kita pada yang lebih ahli, Tuhan misalnya. Karena memang ada yang dipertemukan untuk belajar beratnya sebuah perpisahan, Dan aku terus berharap semoga itu bukan kita. Semoga kita adalah yang bisa saling menjaga dan mempertahankan. Sore ini, seiring hujan berhenti, sebelum Cantika melangkahkan kaki. Ia menitipkan sesuatu kepadaku.

Hatimu.

Jadi, bolehkah aku menjaganya? Bolehkah aku ada disitu? Tepat di ruang hatimu. Karena ada satu rahasia lagi yang belum kamu tahu.

Bahwa aku begitu mencintaimu, pria kesayanganku.

Ini memang masih rahasia, tapi ketahuilah aku sudah bosan menyimpannya terlalu lama.

Aku Pernah Merasakannya

Untuk yang sedang merasakannya,

Berapa kali kamu dikecewakan oleh putaran waktu? Sesering apa kamu mengerti betul tentang beratnya melepaskan? Tentang perjuangan merelakan? Memiliki yang justru akhirnya berusaha melepaskan diri, berharap pada yang mengharapkan orang lain, memberikan bahagia kepada yang telah membuatmu berairmata, mematikan segala mimpi pada yang menaburkan benih-benih ekspektasi, menggugurkan ingatan tentang seseorang yang tak bisa kau lupakan, berjarak dengan dia yang kau cinta, dijadikan yang terakhir oleh yang selalu kau prioritaskan bahagianya, menjadi kuat disaat seisi dunia berusaha melemahkanmu, disodori segitiga yang membentukmu dia dan yang dicintainya.

Sakitkah? Sudah berapa lama kamu bertahan karena masih meyakinkan kepalamu bahwa harapan sedang diproduksi? Sudah berapa lama kamu menunggu dia yang sedikitpun tak pernah tahu isi hatimu? Sudah sesering apa hanya bisa melihat punggungnya pergi dan kamu hanya bisa gigit jari? Sudah sebanyak apa perban di hatimu yang kau sembunyikan? Bukankah hanya kamu yang paling tahu, bukankah selama ini menyimpannya takkan menghasilkan apa-apa selain sakit yang belaksa-laksa? Lalu untuk apa masih memperjuangkan yang sedikitpun tak pernah tahu keberadaanmu, tak pernah menginginkanmu? Memang benar tidak ada yang mustahil, memang benar kamu harus mencoba segala sesuatunya. Tapi bukan dengan mempertaruhkan hatimu kan? Selain menerima realita, mungkin kamu perlu membuka mata.

Kadang kamu harus pergi beberapa meter dari arena lukamu untuk tahu siapa yang perlu diperjuangkan dan yang perlu dilepaskan. Kadang kamu harus mencicipi sakit yang bertubi-tubi, tapi jangan hal-hal itu membuatmu lemah sedikitpun. Jangan membuat luka itu nyaman untuk beredar. Jangan menunda agar mereka bebas menyakitimu lebih lagi. Bukan salahmu, bukan salahnya, bukan salah siapa-siapa. Aku juga pernah begitu. Tapi setelah menyadari bahwa luka tak dapat diundang seijin diri kita sendiri, aku cepat-cepat mengusirnya pergi sejauh mungkin, sekeras mungkin yang aku bisa. Suatu hari, kamu akan menyadari bahwa ada orang lain yang bisa membahagiakanmu tanpa harus menciptakan luka di hatimu. Suatu hari, kamu akan menertawai seluruh rangkai airmata ini. Karena suatu hari nanti kamu akan mendewasa, kamu akan bisa melihat segala sesuatunya lebih jelas.

Tenang. Segala sesuatunya akan baik-baik saja. Segala sesuatunya sedang dikendalikan Tuhan, jika kamu mengijinkan Dia membantumu. Hari-hari berat, malam-malam yang penuh dengan tangis, hati yang pelan-pelan meretak, waktu yang semakin keras berdetak, pasti akan mengajarimu sesuatu. Dan kamu akan menyadarinya suatu hari nanti. Percayalah, karena aku pernah merasakannya.

Pecinta Senja

Bernard Batubara,

Masih sulit berhenti mencintai senja? Aku juga. Senja selalu manis, selalu menghipnotis, selalu mengingatkanku denganmu. Entah sejak kapan tepatnya aku bertemu tulisan-tulisan indahmu di dunia maya dan kemudian menjatuhkan hati pada mereka. Meski hingga kini sorot mata kita belum pernah memiliki titik temu, meski selama ini hanya bisa mengenalmu lewat racikan aksara buatan jemarimu, tapi aku percaya kamu berhati lembut. Jangan sangkali, karena itu penilaianku sendiri. Tentang sebuah pertemuan yang cukup magis dan tak terprediksi, aku bersyukur bisa mengenalmu. Tidak ada yang pernah kebetulan kan?

Kamu telah mencuri kekagumanku, Bara. Karena kamu menuliskan dunia-dunia baru yang belum pernah kujelajahi. Karena kamu menulis dengan hati. Karena kamu sering menyeretku untuk menulis lebih banyak lagi. Pasti kamu tidak mengetahui hal ini kan? Tapi percayalah, aku bukan satu-satunya orang dari tujuh puluh ribu pengikutmu di dunia seratus empat puluh karakter yang merasa seperti itu. Terima kasih sudah menulis, Bara. Jangan kurangi letupan-letupan yang membakar energi jemarimu untuk menuliskan cerita-cerita luar biasa. Jangan pernah kuatir, karena segalanya akan baik-baik saja. Jangan takut akan patah hati, karena kamu akan berterima kasih karena menemukan obat penyembuhnya. Berbahagialah.

Setelah Jakarta, akan singgah kemana lagi? Semoga sebelum kamu berkelana lagi, sebuah temu bisa kita kantongi ya. Seusai melihat potretmu kemarin malam, ingin rasanya mencubiti pipimu. Duduk dibawah senja, ilalang-ilalang yang menari dengan gemulai, bertukar tawa dan cerita, menuliskan puisi-puisi cinta, merekam kerja senja dengan dua pasang mata, menikmati detik-detik yang segera pergi dijemput oleh menit, jam dan hari. Bukankah itu menyenangkan, Bara?

Terima kasih untuk ‘hadiah’ tiket tempo hari dan pesan yang kamu selipkan di ‘Milana’ milikku. Kata adik perempuanku, kamu tampan dan gagah. Dia saja mengaggumimu, apa lagi aku? Seperti katamu bahwa, “menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran”, aku tetap akan menunggumu Bara. Aku akan menunggu senja kita. Entah kapan, tapi pasti kita akan dipertemukan. Kamu juga percaya kan?

Patricia

Ini Bukan Bunga Tidur Kan?

Priaku,

Sudah boleh memanggilmu seperti itu? Sudah boleh menggenggam tanganmu tanpa harus merasa malu-malu didepan teman-temanmu? Sudah boleh meminta temu tanpa harus merasa ragu kalau-kalau kamu takkan setuju? Sudah boleh menjadikanmu pelengkap nafasku? Sudah boleh mengaku kalau aku terlalu luluh dengan segala perlakuan manismu? Sudah boleh mengedipkan mata atas peristiwa kemarin malam? Sudah boleh memintamu untuk mencubit pipiku? Karena aku takut ini hanya bagian dari bunga tidur.

Aku pernah takut untuk memiliki lagi, karena tidak siap jika aku harus melepasnya terlalu dini. Tapi bukankah tidak pernah ada yang siap akan kehilangan? Bukankah tidak pernah ada yang meminta sebuah perpisahan? Jika padamu akhirnya hati ini dititipkan, aku berharap lebih dulu lulus untuk menjaga hatimu. Aku berharap lebih dulu bisa dipercaya saat duniamu penuh dengan kecewa. Aku berharap lebih kuat untuk menguatkanmu di hari-hari yang berat. Aku berharap bisa menjadi perempuan terbaik yang bisa menemanimu melewati hari-hari terburuk sekalipun. Aku berharap tetap akan menjadi seseorang yang kau cintai dengan cara-caramu yang sederhana. Aku berharap kita akan selalu seperti ini.

Kamu adalah jawaban dari ribuan hari aku melipat jemari, mengirimkan doa-doa kepada Tuhan. Kamu adalah hadiah yang dulu disembunyikan Tuhan saat aku lulus untuk merelakan orang-orang yang kucintai pergi. Kamu adalah sesuatu yang pernah kusangkal, pun tak kusangka-sangka adanya, namun kini terasa di dalam hati begitu kekal. Kamu tahu bahwa waktu akan selalu berputar, tapi semoga tak satupun rasa akan memudar. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain dicintai oleh orang yang kita cintai, kan? Dan hari ini adalah saksi saat kebahagiaan itu berluap-luap terproduksi oleh hati, karena sesederhana itu kamu ada disini.

Pesanku hanya satu, jangan lupa berterima kasih kepada Tuhan karena kita telah dipertemukan dan dipersatukan ya. Aku mencintaimu, priaku. Cintailah aku dengan sederhana, dengan caramu yang diluar logika, dengan ketulusan hatimu. Itu sudah lebih dari cukup.

Perempuanmu

Semoga Tidak Terlalu Lama

Untuk seseorang yang namanya masih belum bisa kusebutkan,

Anggap saja ini adalah jembatan penghubung sebuah ‘hai’ yang sedang tak berani kuutarakan. Aku terlalu rindu, terlalu ingin bertemu dan terlalu tak ingin kamu tahu. Terlalu ingin sebuah temu tanpa harus aku yang memulai segalanya lebih dahulu. Taukah bahwa mencintai seseorang diam-diam tidak akan pernah mendapatkan apa-apa selain bersiap jika sewaktu-waktu akan dilahap oleh rasa kehilangan? Tapi aku bisa apa? Sambil melihat punggungmu berlalu dari stasiun kereta waktu itu, aku melepasmu. Sepuluh kali dua puluh empat jam, tak ada sorot mata yang bertukar tatap. Tapi semakin temu tak dihadiahkan untukku, semakin pikirku bekerja dua kali lipat memikirkanmu. Penuh, tak bisa dibatasi, tak pernah bisa kuusir pergi, hanya bisa menunggu waktu yang tak pernah pasti.

Sudah lama sekali aku tak mencicipi rindu. Begini ya rasanya? Jika kamu lebih ahli, bolehkah aku diajari? Cara untuk merasa lebih baik meski tanpa sebuah temu, cara untuk membuat segalanya baik-baik saja tanpa kau pernah mengungkapkannya. Semoga tidak terlalu lama sorot matamu bisa beradu denganku, semoga tidak terlalu lama aku menyimpan sebuah rindu, semoga segala yang baik akan dipertemukan diantara kita.

Dari Perempuan Yang Selalu Mendoakanmu

Untuk objek rindu,

Di sebuah kanvas hitam milik semesta, tarian kembang api menghiasi malamku dengan meriah. Berisik dan meletup-letup. Aku hanya memandangi dari jendela, sambil sesekali mengetuk-ngetuk kaca. Tentang siapa yang berpesta, aku tidak peduli. Tapi mengapa harus di malam ini? Ini kan bukan tanggal 31 Desember, ini bukan pergantian malam tahun baru, arlojiku juga tidak menunjukkan pukul 00:00. Tapi semesta selalu saja bisa membuatku merindukanmu lewat berbagai cara. Meriahnya langit dan ritual malam tahun baru seperti ini misalnya.

Kalau ingatanmu belum buyar, tepat pukul 00:00 di sebuah malam pergantian tahun, kita mengakhiri dan mengawali perpindahan ini dengan sebuah doa. Tidak ada yang pernah tahu apa isi doa dari masing-masing kita, kecuali Bos Besar di Surga. Begitu rahasia, begitu sederhana, sedang kita hanya mengimani serta mengamininya tanpa perlu saling bertanya. Lalu kamu duduk merapat ke sisiku, sambil menyanyikan lagu-lagu yang begitu manis untuk didengar telinga. Seisi dunia mungkin sedang berpesta, berlomba untuk menjadi yang paling ramai atau mungkin sibuk dengan membalas ucapan-ucapan selamat tahun baru. Tapi aku suka dengan cara kita menikmatinya. Doa, petikan gitar, lagu-lagu cinta, secangkir teh milikku dan kopi pahit milikmu, cukup kamu dan aku, itu sudah lebih dari standar kebahagiaan. Bukankah sesederhana itu seharusnya?

Bicara tentang kita, aku percaya tentang rencana Tuhan yang luar biasa yang tak pernah bisa diprediksi oleh kepala. Bicara tentangmu, ada ucapan syukur untuk setiap adamu yang selalu menitipkan bahagia dan ‘nyawa’ baru untuk hati. Bicara tentangku, ada sesuatu yang belum pernah kuungkapkan sebelumnya. Bahwa aku menyadari rasa itu, yang pelan-pelan merasuk, yang pelan-pelan cukup mengusik hatiku, yang diam-diam kusimpan. Bahwa benar, aku mencintaimu. Bahwa benar, namamu masuk dalam doa-doa yang kupanjatkan kepada Tuhan. Salahkah jika hari ini aku merindukanmu lebih dari hari kemarin? Aku hanya tidak ingin terburu-buru, aku hanya tidak ingin mengatur segalanya sesuai rencanaku, karena bukankah Tuhan lebih tahu?

Aku percaya jika kita ditakdirkan untuk bersama, pasti kamu dan aku tidak akan kemana-mana. Aku percaya bahwa Tuhan lebih ahli menyatukan dua hati. Aku tidak ingin khawatir, aku tidak ingin takut dan resah, karena aku percaya segalanya akan baik-baik saja. Jika aku bisa, kamu pun juga harus ya? Aku percaya, jika belum diberikan Tuhan berarti kita belum siap menerimanya. Jadi aku berdoa, agar kita sama-sama dipersiapkan untuk saling memiliki dan saling mencintai. Aku merindukanmu, pria kesayanganku. Di balik malam yang begitu ramai, semoga Tuhan mendengar doaku agar kita memiliki doa yang serupa. Semoga disana, kamupun juga sedang menyelipkan namaku dalam doamu. Semoga disana, kamu juga sedang terusik dengan rindu.

Dari perempuan yang selalu mendoakanmu

Tentang Sesuatu Yang Tidak Kamu Ketahui

Pernah patah hati? Saat seseorang meretakkan hatimu, saat luka menghampiri sudut-sudut hati, saat kecewa mengobrak-abrik seluruh penjuru, bagaimana rasanya? Berapa kali kamu menangis dan meronta hingga mengusik telingaNya? Berapa kali kamu mengadu, tanpa tahu Dia pun sedang disakiti olehmu. Saat kamu melakukan dosa, mungkin Tuhan juga sepatah hati itu. Berapa kali kita menjadi pemeran utama atas tercipta airmataNya? Kamu selalu meminta agar Tuhan tak melepaskan tanganNya, barangkali kamu yang berlari dan membuatNya patah hati. Tapi Dia selalu disini, menunggu untuk kamu kembali.

Pernah berteman dengan jarak? Pasti kenal dengan rindu. Saat hatimu berkali-kali meminta sebuah temu untuk melepaskan sesak yang berdesak, bagaimana jika tidak dikabulkan? Saat kamu menunggu sebuah sapa dari yang kau cinta, tapi hingga penghujung hari tidak juga tiba, apa rasanya? Saat kamu mengirimkan pesan rindu, tapi tak ada balasan atau kata setuju atas pertemuan, ketar-ketirkah hati? Kamu pasti mengerti pentingnya sebuah ‘temu’ untuk obat terjitu bagi rindu. Tuhan terlalu cinta dan kita terlalu sering mengabaikanNya. Saat kita berteman dengan dosa, Tuhan pun berteman dengan jarak. Ada jeda yang membatasi, begitulah Tuhan merindu tanpa kamu tahu. Tuhan tidak membenci kita, tapi dosa. Mungkin sudah cukup kita memainkan perasaanNya, jika benar katamu kau cinta.

Rindu bukan hanya perihal lama tidak bertemu, tapi juga ketika dia tidak sedang berada di sisimu. Mungkin kini, Tuhan sedang rindu padamu. Mungkin sudah terlalu lama Ia menunggu kata-katamu atau rangkaian ceritamu dalam sebuah doa. Doa adalah percakapan, latihan keakraban, pemusnah rinduNya secara perlahan. Bukan hanya sebelum tidurmu, tapi kapan pun, Dia selalu menunggu untuk ditemui. Bukan kata-kata manis yang dinilai, tapi isi hati. Saat kamu bersungut-sungut atas perasaan kesepian, lupakah saat kamu mengabaikanNya, Tuhan juga memiliki perasaan? Saat kamu bilang tidak ada yang peduli dan mengerti, Dia bersedia meluangkan telingaNya untuk mendengarkan ceritamu. Tapi nyatanya, tak sedetik pun kamu menghampiriNya. Karena Tuhan terlalu cinta dan sebaiknya kita berhenti mematahkan hatiNya.

Jangan hanya bertemu untuk bertamu menyuguhkan harapmu agar disetujuiNya. Tapi tanyalah apa yang Dia ingin lakukan dalam hidupmu. Bersyukurlah atas segala hal yang telah dilakukannya. Berterima kasihlah karena Dia adalah satu-satunya yang paling bisa mencintaimu dengan luar biasa. Lagi-lagi lewat sebuah doa, bertemulah, berceritalah seperti dua yang saling jatuh cinta.

There’s a lot things to do. But I never forget to loving you.

—@lovepathie

Pertemuan kita adalah bagaimana cara kebahagiaan dilahirkan

—@lovepathie 

Thinking of you and thanking God for you

Percaya Saja

Hari itu, gerimis memenuhi pipiku. Saat mata berkeliling pun, awan kelabu memenuhi pandangan. Enggan melangkah, enggan mengusir, aku hanya diam terpaku menikmati takdir. Luka itu begitu cepat menandatangani dirinya atas kontrak kerjasama untuk mematikan sistem kerja hati. Lalu ada pasrah yang tak memiliki arah, mengguncangkan diriku dengan zat-zat khawatir yang dia punya. Ratusan kali aku bertanya, “Salahkah jatuh cinta?” “Salahkah jika dia yang aku cinta?” Untuk jatuh yang kesekian kali, apa benar aku telah hilang kendali? Putaran-putaran waktu yang sempat terekam dalam kepala adalah kenangan-kenangan yang terasa begitu nyata dan cukup menyiksa.

Nada-nada sunyi di plokamirkan semesta. Dalam sebuah labirin, aku mendikte diriku sendiri agar coba melangkah menemukan pintu keluar. Entah bagaimana caranya, entah kapan selesainya, disebuah ketidakpastian ini aku hanya berharap pada yang Maha Pasti. Saat luka mendengung, aku menutup telingaku. Saat kecewa mengingatkanku, aku melupakannya dengan cara bersyukur. Saat apa yang dilihat mata jauh lebih menyakitkan dari yang dirangkum oleh kepala, aku hanya percaya hati bisa lebih bijaksana meleraikan rasa. Saat inginku tak selaras dengan inginMu, ini waktunya untuk bergegas menyerahkan seluruh percaya pada Ahlinya.

Saat segalanya terasa tak adil, sebenarnya cerita yang luar biasa sedang Tuhan cicil. Berhentilah berpikir bahwa Tuhan mengunci mulutnya. Diam yang tercipta mungkin hanya mendeteksi sejauh mana kamu telah percaya. Jika hari itu rasanya kelabu, hari ini melengkunglah pelangi diatas kepalaku. Bukan, bukan karena segala sesuatunya sudah selesai. Tapi karena aku tak memperlama dan menunda tibanya bahagiaku. Jika kini aku kuat, mungkin karena hari itu aku tak membiarkan rasa takut memenjarakanku. Aku membungkusnya dengan doa dan membiarkan Tuhan mengambil alih semuanya.

Hari ini, aku tersenyum. Bersyukur atas sebuah ‘tidak’ yang Tuhan berikan pada waktu itu dan berterima kasih untuk sebuah ‘iya’ yang Tuhan selipkan dalam sebuah formula bernama ‘bahagia’. Mempercayai rencanaMu memang tidak mudah saat melihat segalanya tak sesuai teori, tapi aku tetap ingin percaya.

Mengapa sesuatu yang jelas-jelas salah berhadiahkan tepuk tangan? Sedangkan yang benar, justru ditempatkan di balik layar?

—@lovepathie

Pertemuan itu selalu ajaib. Dalam kamusku, tidak ada satupun hal yang dirancang secara kebetulan.

— @lovepathie

Tanpa perlu aku berbisik, rindu sudah terlalu berisik.

—@lovepathie