@lovepathie
Pecinta Senja

Bernard Batubara,

Masih sulit berhenti mencintai senja? Aku juga. Senja selalu manis, selalu menghipnotis, selalu mengingatkanku denganmu. Entah sejak kapan tepatnya aku bertemu tulisan-tulisan indahmu di dunia maya dan kemudian menjatuhkan hati pada mereka. Meski hingga kini sorot mata kita belum pernah memiliki titik temu, meski selama ini hanya bisa mengenalmu lewat racikan aksara buatan jemarimu, tapi aku percaya kamu berhati lembut. Jangan sangkali, karena itu penilaianku sendiri. Tentang sebuah pertemuan yang cukup magis dan tak terprediksi, aku bersyukur bisa mengenalmu. Tidak ada yang pernah kebetulan kan?

Kamu telah mencuri kekagumanku, Bara. Karena kamu menuliskan dunia-dunia baru yang belum pernah kujelajahi. Karena kamu menulis dengan hati. Karena kamu sering menyeretku untuk menulis lebih banyak lagi. Pasti kamu tidak mengetahui hal ini kan? Tapi percayalah, aku bukan satu-satunya orang dari tujuh puluh ribu pengikutmu di dunia seratus empat puluh karakter yang merasa seperti itu. Terima kasih sudah menulis, Bara. Jangan kurangi letupan-letupan yang membakar energi jemarimu untuk menuliskan cerita-cerita luar biasa. Jangan pernah kuatir, karena segalanya akan baik-baik saja. Jangan takut akan patah hati, karena kamu akan berterima kasih karena menemukan obat penyembuhnya. Berbahagialah.

Setelah Jakarta, akan singgah kemana lagi? Semoga sebelum kamu berkelana lagi, sebuah temu bisa kita kantongi ya. Seusai melihat potretmu kemarin malam, ingin rasanya mencubiti pipimu. Duduk dibawah senja, ilalang-ilalang yang menari dengan gemulai, bertukar tawa dan cerita, menuliskan puisi-puisi cinta, merekam kerja senja dengan dua pasang mata, menikmati detik-detik yang segera pergi dijemput oleh menit, jam dan hari. Bukankah itu menyenangkan, Bara?

Terima kasih untuk ‘hadiah’ tiket tempo hari dan pesan yang kamu selipkan di ‘Milana’ milikku. Kata adik perempuanku, kamu tampan dan gagah. Dia saja mengaggumimu, apa lagi aku? Seperti katamu bahwa, “menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran”, aku tetap akan menunggumu Bara. Aku akan menunggu senja kita. Entah kapan, tapi pasti kita akan dipertemukan. Kamu juga percaya kan?

Patricia

Ini Bukan Bunga Tidur Kan?

Priaku,

Sudah boleh memanggilmu seperti itu? Sudah boleh menggenggam tanganmu tanpa harus merasa malu-malu didepan teman-temanmu? Sudah boleh meminta temu tanpa harus merasa ragu kalau-kalau kamu takkan setuju? Sudah boleh menjadikanmu pelengkap nafasku? Sudah boleh mengaku kalau aku terlalu luluh dengan segala perlakuan manismu? Sudah boleh mengedipkan mata atas peristiwa kemarin malam? Sudah boleh memintamu untuk mencubit pipiku? Karena aku takut ini hanya bagian dari bunga tidur.

Aku pernah takut untuk memiliki lagi, karena tidak siap jika aku harus melepasnya terlalu dini. Tapi bukankah tidak pernah ada yang siap akan kehilangan? Bukankah tidak pernah ada yang meminta sebuah perpisahan? Jika padamu akhirnya hati ini dititipkan, aku berharap lebih dulu lulus untuk menjaga hatimu. Aku berharap lebih dulu bisa dipercaya saat duniamu penuh dengan kecewa. Aku berharap lebih kuat untuk menguatkanmu di hari-hari yang berat. Aku berharap bisa menjadi perempuan terbaik yang bisa menemanimu melewati hari-hari terburuk sekalipun. Aku berharap tetap akan menjadi seseorang yang kau cintai dengan cara-caramu yang sederhana. Aku berharap kita akan selalu seperti ini.

Kamu adalah jawaban dari ribuan hari aku melipat jemari, mengirimkan doa-doa kepada Tuhan. Kamu adalah hadiah yang dulu disembunyikan Tuhan saat aku lulus untuk merelakan orang-orang yang kucintai pergi. Kamu adalah sesuatu yang pernah kusangkal, pun tak kusangka-sangka adanya, namun kini terasa di dalam hati begitu kekal. Kamu tahu bahwa waktu akan selalu berputar, tapi semoga tak satupun rasa akan memudar. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain dicintai oleh orang yang kita cintai, kan? Dan hari ini adalah saksi saat kebahagiaan itu berluap-luap terproduksi oleh hati, karena sesederhana itu kamu ada disini.

Pesanku hanya satu, jangan lupa berterima kasih kepada Tuhan karena kita telah dipertemukan dan dipersatukan ya. Aku mencintaimu, priaku. Cintailah aku dengan sederhana, dengan caramu yang diluar logika, dengan ketulusan hatimu. Itu sudah lebih dari cukup.

Perempuanmu

Semoga Tidak Terlalu Lama

Untuk seseorang yang namanya masih belum bisa kusebutkan,

Anggap saja ini adalah jembatan penghubung sebuah ‘hai’ yang sedang tak berani kuutarakan. Aku terlalu rindu, terlalu ingin bertemu dan terlalu tak ingin kamu tahu. Terlalu ingin sebuah temu tanpa harus aku yang memulai segalanya lebih dahulu. Taukah bahwa mencintai seseorang diam-diam tidak akan pernah mendapatkan apa-apa selain bersiap jika sewaktu-waktu akan dilahap oleh rasa kehilangan? Tapi aku bisa apa? Sambil melihat punggungmu berlalu dari stasiun kereta waktu itu, aku melepasmu. Sepuluh kali dua puluh empat jam, tak ada sorot mata yang bertukar tatap. Tapi semakin temu tak dihadiahkan untukku, semakin pikirku bekerja dua kali lipat memikirkanmu. Penuh, tak bisa dibatasi, tak pernah bisa kuusir pergi, hanya bisa menunggu waktu yang tak pernah pasti.

Sudah lama sekali aku tak mencicipi rindu. Begini ya rasanya? Jika kamu lebih ahli, bolehkah aku diajari? Cara untuk merasa lebih baik meski tanpa sebuah temu, cara untuk membuat segalanya baik-baik saja tanpa kau pernah mengungkapkannya. Semoga tidak terlalu lama sorot matamu bisa beradu denganku, semoga tidak terlalu lama aku menyimpan sebuah rindu, semoga segala yang baik akan dipertemukan diantara kita.

Dari Perempuan Yang Selalu Mendoakanmu

Untuk objek rindu,

Di sebuah kanvas hitam milik semesta, tarian kembang api menghiasi malamku dengan meriah. Berisik dan meletup-letup. Aku hanya memandangi dari jendela, sambil sesekali mengetuk-ngetuk kaca. Tentang siapa yang berpesta, aku tidak peduli. Tapi mengapa harus di malam ini? Ini kan bukan tanggal 31 Desember, ini bukan pergantian malam tahun baru, arlojiku juga tidak menunjukkan pukul 00:00. Tapi semesta selalu saja bisa membuatku merindukanmu lewat berbagai cara. Meriahnya langit dan ritual malam tahun baru seperti ini misalnya.

Kalau ingatanmu belum buyar, tepat pukul 00:00 di sebuah malam pergantian tahun, kita mengakhiri dan mengawali perpindahan ini dengan sebuah doa. Tidak ada yang pernah tahu apa isi doa dari masing-masing kita, kecuali Bos Besar di Surga. Begitu rahasia, begitu sederhana, sedang kita hanya mengimani serta mengamininya tanpa perlu saling bertanya. Lalu kamu duduk merapat ke sisiku, sambil menyanyikan lagu-lagu yang begitu manis untuk didengar telinga. Seisi dunia mungkin sedang berpesta, berlomba untuk menjadi yang paling ramai atau mungkin sibuk dengan membalas ucapan-ucapan selamat tahun baru. Tapi aku suka dengan cara kita menikmatinya. Doa, petikan gitar, lagu-lagu cinta, secangkir teh milikku dan kopi pahit milikmu, cukup kamu dan aku, itu sudah lebih dari standar kebahagiaan. Bukankah sesederhana itu seharusnya?

Bicara tentang kita, aku percaya tentang rencana Tuhan yang luar biasa yang tak pernah bisa diprediksi oleh kepala. Bicara tentangmu, ada ucapan syukur untuk setiap adamu yang selalu menitipkan bahagia dan ‘nyawa’ baru untuk hati. Bicara tentangku, ada sesuatu yang belum pernah kuungkapkan sebelumnya. Bahwa aku menyadari rasa itu, yang pelan-pelan merasuk, yang pelan-pelan cukup mengusik hatiku, yang diam-diam kusimpan. Bahwa benar, aku mencintaimu. Bahwa benar, namamu masuk dalam doa-doa yang kupanjatkan kepada Tuhan. Salahkah jika hari ini aku merindukanmu lebih dari hari kemarin? Aku hanya tidak ingin terburu-buru, aku hanya tidak ingin mengatur segalanya sesuai rencanaku, karena bukankah Tuhan lebih tahu?

Aku percaya jika kita ditakdirkan untuk bersama, pasti kamu dan aku tidak akan kemana-mana. Aku percaya bahwa Tuhan lebih ahli menyatukan dua hati. Aku tidak ingin khawatir, aku tidak ingin takut dan resah, karena aku percaya segalanya akan baik-baik saja. Jika aku bisa, kamu pun juga harus ya? Aku percaya, jika belum diberikan Tuhan berarti kita belum siap menerimanya. Jadi aku berdoa, agar kita sama-sama dipersiapkan untuk saling memiliki dan saling mencintai. Aku merindukanmu, pria kesayanganku. Di balik malam yang begitu ramai, semoga Tuhan mendengar doaku agar kita memiliki doa yang serupa. Semoga disana, kamupun juga sedang menyelipkan namaku dalam doamu. Semoga disana, kamu juga sedang terusik dengan rindu.

Dari perempuan yang selalu mendoakanmu

Tentang Sesuatu Yang Tidak Kamu Ketahui

Pernah patah hati? Saat seseorang meretakkan hatimu, saat luka menghampiri sudut-sudut hati, saat kecewa mengobrak-abrik seluruh penjuru, bagaimana rasanya? Berapa kali kamu menangis dan meronta hingga mengusik telingaNya? Berapa kali kamu mengadu, tanpa tahu Dia pun sedang disakiti olehmu. Saat kamu melakukan dosa, mungkin Tuhan juga sepatah hati itu. Berapa kali kita menjadi pemeran utama atas tercipta airmataNya? Kamu selalu meminta agar Tuhan tak melepaskan tanganNya, barangkali kamu yang berlari dan membuatNya patah hati. Tapi Dia selalu disini, menunggu untuk kamu kembali.

Pernah berteman dengan jarak? Pasti kenal dengan rindu. Saat hatimu berkali-kali meminta sebuah temu untuk melepaskan sesak yang berdesak, bagaimana jika tidak dikabulkan? Saat kamu menunggu sebuah sapa dari yang kau cinta, tapi hingga penghujung hari tidak juga tiba, apa rasanya? Saat kamu mengirimkan pesan rindu, tapi tak ada balasan atau kata setuju atas pertemuan, ketar-ketirkah hati? Kamu pasti mengerti pentingnya sebuah ‘temu’ untuk obat terjitu bagi rindu. Tuhan terlalu cinta dan kita terlalu sering mengabaikanNya. Saat kita berteman dengan dosa, Tuhan pun berteman dengan jarak. Ada jeda yang membatasi, begitulah Tuhan merindu tanpa kamu tahu. Tuhan tidak membenci kita, tapi dosa. Mungkin sudah cukup kita memainkan perasaanNya, jika benar katamu kau cinta.

Rindu bukan hanya perihal lama tidak bertemu, tapi juga ketika dia tidak sedang berada di sisimu. Mungkin kini, Tuhan sedang rindu padamu. Mungkin sudah terlalu lama Ia menunggu kata-katamu atau rangkaian ceritamu dalam sebuah doa. Doa adalah percakapan, latihan keakraban, pemusnah rinduNya secara perlahan. Bukan hanya sebelum tidurmu, tapi kapan pun, Dia selalu menunggu untuk ditemui. Bukan kata-kata manis yang dinilai, tapi isi hati. Saat kamu bersungut-sungut atas perasaan kesepian, lupakah saat kamu mengabaikanNya, Tuhan juga memiliki perasaan? Saat kamu bilang tidak ada yang peduli dan mengerti, Dia bersedia meluangkan telingaNya untuk mendengarkan ceritamu. Tapi nyatanya, tak sedetik pun kamu menghampiriNya. Karena Tuhan terlalu cinta dan sebaiknya kita berhenti mematahkan hatiNya.

Jangan hanya bertemu untuk bertamu menyuguhkan harapmu agar disetujuiNya. Tapi tanyalah apa yang Dia ingin lakukan dalam hidupmu. Bersyukurlah atas segala hal yang telah dilakukannya. Berterima kasihlah karena Dia adalah satu-satunya yang paling bisa mencintaimu dengan luar biasa. Lagi-lagi lewat sebuah doa, bertemulah, berceritalah seperti dua yang saling jatuh cinta.

    There’s a lot things to do. But I never forget to loving you.
    Pertemuan kita adalah bagaimana cara kebahagiaan dilahirkan
    Thinking of you and thanking God for you
Percaya Saja

Hari itu, gerimis memenuhi pipiku. Saat mata berkeliling pun, awan kelabu memenuhi pandangan. Enggan melangkah, enggan mengusir, aku hanya diam terpaku menikmati takdir. Luka itu begitu cepat menandatangani dirinya atas kontrak kerjasama untuk mematikan sistem kerja hati. Lalu ada pasrah yang tak memiliki arah, mengguncangkan diriku dengan zat-zat khawatir yang dia punya. Ratusan kali aku bertanya, “Salahkah jatuh cinta?” “Salahkah jika dia yang aku cinta?” Untuk jatuh yang kesekian kali, apa benar aku telah hilang kendali? Putaran-putaran waktu yang sempat terekam dalam kepala adalah kenangan-kenangan yang terasa begitu nyata dan cukup menyiksa.

Nada-nada sunyi di plokamirkan semesta. Dalam sebuah labirin, aku mendikte diriku sendiri agar coba melangkah menemukan pintu keluar. Entah bagaimana caranya, entah kapan selesainya, disebuah ketidakpastian ini aku hanya berharap pada yang Maha Pasti. Saat luka mendengung, aku menutup telingaku. Saat kecewa mengingatkanku, aku melupakannya dengan cara bersyukur. Saat apa yang dilihat mata jauh lebih menyakitkan dari yang dirangkum oleh kepala, aku hanya percaya hati bisa lebih bijaksana meleraikan rasa. Saat inginku tak selaras dengan inginMu, ini waktunya untuk bergegas menyerahkan seluruh percaya pada Ahlinya.

Saat segalanya terasa tak adil, sebenarnya cerita yang luar biasa sedang Tuhan cicil. Berhentilah berpikir bahwa Tuhan mengunci mulutnya. Diam yang tercipta mungkin hanya mendeteksi sejauh mana kamu telah percaya. Jika hari itu rasanya kelabu, hari ini melengkunglah pelangi diatas kepalaku. Bukan, bukan karena segala sesuatunya sudah selesai. Tapi karena aku tak memperlama dan menunda tibanya bahagiaku. Jika kini aku kuat, mungkin karena hari itu aku tak membiarkan rasa takut memenjarakanku. Aku membungkusnya dengan doa dan membiarkan Tuhan mengambil alih semuanya.

Hari ini, aku tersenyum. Bersyukur atas sebuah ‘tidak’ yang Tuhan berikan pada waktu itu dan berterima kasih untuk sebuah ‘iya’ yang Tuhan selipkan dalam sebuah formula bernama ‘bahagia’. Mempercayai rencanaMu memang tidak mudah saat melihat segalanya tak sesuai teori, tapi aku tetap ingin percaya.

    Mengapa sesuatu yang jelas-jelas salah berhadiahkan tepuk tangan? Sedangkan yang benar, justru ditempatkan di balik layar?
    Pertemuan itu selalu ajaib. Dalam kamusku, tidak ada satupun hal yang dirancang secara kebetulan.
    Tanpa perlu aku berbisik, rindu sudah terlalu berisik.
Cara Luka Bekerja

Pernah menjejakkan kaki saat luka terlalu suka memuntahkan ‘perihnya’ disana? Kamu takkan bisa berlari, karena mereka akan mengikatmu dengan simpul mati. Kamu takkan bisa mendapatkan pertolongan untuk keluar, karena semua pintu tak punya arah tuju. Mereka buntu.

Satu-satunya cara untuk keluar adalah menghadapinya. Satu-satunya jembatan tercepat untuk bangun dari mimpi buruk ini adalah jangan banyak meronta, cukuplah miliki sebuah rela. Pikirmu akan penuh dengan peristiwa reka ulang dimana pasukan luka belum menyerang. Dimana harapan masih menyamar jadi ibu peri yang baik, yang mampu mengabulkan seluruh pintamu hingga kenyataan disulap serupa mimpi buruk.

Luka terlalu berbahaya untuk menginap di hatimu, menyewa ruang tanpa jangka waktu. Menghapus luka adalah dengan berusaha untuk tidak mengingat-ingatnya. Kalau seluruh ruang pikir mengingatkanmu, berlagaklah kau perasa yang amnesia dan pemaaf yang luarbiasa. Jangan karena satu luka terakhir yang kau miliki membuat hati menutup pintunya pada yang sebenarnya ingin menjadi penghuni.

Jika luka masih terasa begitu sakit, mungkin karena kamu pernah jatuh dengan terlalu kencang. Semakin dalam jatuhnya, semakin dalam lukanya, semakin lama sembuhnya. Sembunyikan lukamu dengan perban, tutupi agar tak tersentuh oleh kenangan-kenangan lama. Pergi sejauh yang kau bisa dari arena yang mengingatkanmu akan luka, setidaknya jangan biarkan masa lalu menyentuhmu dan membuat luka baru untuk sementara waktu. Sampai kamu siap, sampai kamu sembuh.

Segala peristiwa pertama kali adalah penentu yang paling ahli. Terutama bagaimana saat kamu menanggapi luka. Berusaha mengobati atau hanya diam sampai goresan itu menginfeksi dengan sendiri? Jangan takut akan tanda seusai sembuhnya luka. Ia hanya akan mengingatkanmu, untuk tak jatuh ke muara yang sama. Maaf adalah obat penyembuh yang paling ampuh. Meskipun kamu disakiti berulang kali, maafkanlah untuk kesembuhan masing-masing hati.

Mungkin kamu tak pernah meminta, tapi beginilah cara Tuhan mengajarkanmu caranya untuk mendewasa dengan sukarela lewat sebuah luka.

Bersiaplah Untuk Ini

Tentang hal-hal sulit yang telah kamu lalui, mereka bicara banyak tentang pelajaran. Mendewasa adalah pilihan, mau diproses atau tidak. Mungkin sakit, mungkin ini jauh dari ekspektasi dan mungkin rasanya sudah ingin menyerah lebih awal. Tapi percayalah bahwa ini hanya sementara dan suatu hari kamu akan tersenyum karena berhasil melaluinya dengan baik.

Tentang orang-orang yang biasa kamu andalkan, mungkin pada masa-masa terberat, mereka akan meninggalkan. Tenang dan tetaplah kuat. Ini adalah pelajaran bahwa manusia selalu mengecewakan, maka andalkanlah Tuhan. Jika mereka melangkahkan kaki dari arena tempurmu, hadapilah sendiri. Mungkin itu cara Tuhan menyeleksi, nanti juga kau akan dapatkan pengganti.

Tentang peristiwa-peristiwa yang susah kau mengerti. Lakukanlah bagianmu sesuai porsi, biar nanti bagian Tuhan yang akan melengkapi. Ingatlah, kacamatamu berbeda dengan kacamata Tuhan. Apa yang tidak kelihatan, belum tentu tidak ada kan? Tetaplah kuat, selagi menjadi kuat adalah satu-satunya pilihan.

Mungkin, menerima keadaan adalah hal yang sulit. Bahkan merelakan bagian-bagian yang hilang, mengikhlaskan kepergian, pun juga mengobati luka hati juga tak kalah sulitnya. Tapi jangan perlama penyembuhanmu. Cepatlah bangun dan bertindaklah, jangan sampai kamu dililit oleh keadaan sulit.

Jika kini diijinkan mengalami, mungkin karena kita juga dimampukan untuk melalui. Jika kini diijinkan mengalami, mungkin supaya kita bisa mencegah orang lain agar tak berada di posisi ini. Jika kini diijinkan mengalami, mungkin agar tak jatuh dua kali. Jika kini diijinkan mengalami, mungkin agar lebih dulu miliki ‘obat’ untuk esok hari. Kehilangan adalah jembatan untuk menemukan sesuatu yang lebih baik. Bersiaplah.

    Menunda kejujuran adalah tanda kalau kamu tak siap dengan kenyataan. Bertemanlah, sekalipun dengan kenyataan terpahit. Mendewasalah.