RASA JADI KATA

@lovepathie

Ketika Tuhan menambah lagi satu hari untuk bertemu denganmu, entah aku harus bersyukur atau justru mengambil langkah mundur.

—@lovepathie

Menunggu Persetujuan Langit

Ada bekas bibir di tubir cangkir
yang setengah isi setengah kosong.
Aku menatapmu, kamu menatap cangkir itu.

Tidak ada yang menawar sunyi dengan harga tinggi.
Ia melekatkan diri di tengah-tengah ruangan ini.
Seharusnya secangkir kopi kita sesap berdua hingga hitamnya lenyap tak tersisa.

Namun gengsi, ia tak juga pergi.
Di antara degup dan ingin seperti dedaun beda ranting.
Aku menunggu, kau masih meragu.

Lorong pikirmu mungkin terlalu sibuk. Waktu seolah
bisu, tak sanggup memberhentikan lamunanmu.
Di depanmu, aku seolah sosok asing.
Meski sebenarnya, aku jugalah yang disakiti paling sering.

Persimpangan telah kita lalui, meriap dari bawah akar
menyembul lantas mengulur.
Aku limbung, padahal hampir sepuluhan kata telah aku coba susun.
Aku hendak mengatakan dengan mulutku, di mulutmu.

Persimpangan memang membingungkan. Tapi ketika kau tahu aku menunggu
di salah satu ujungnya, mengapa harus mempertanyakan arah?
Aku tak ingin kakimu berhenti pada tempat yang tak ingin dipijaki.

Atau kekasih, kita mulai dari awal. Seperti awal mula dunia, ketika Adam
menyunting Hawa. Salah ialah pelajaran yang baru saja aku petik, dari hatimu.

Bisakah kita menyalakan lampu hijau pada lembar-lembar kebahagiaan?
Lalu mencabuti ego pada kepala kita masing-masing.
Apakah ini terlalu rumit untuk disetuji olehmu?
Kamu, aku, menyatu. Bukan satu satu beradu.
Dekap aku dengan doamu, akan kudekap kamu dengan doaku.
Biarkan doa kita saling dekap, lantas kita saling lekap.
Agar langit tak lagi temaram, agar cinta tak lekas benam.

(Kolaborasi Puisi bersama @dikiumbara)

Titik

Apa rasanya menemukan titik pembentuk garis lintas kebahagiaan? Apa rasanya menemukan titik yang kau sebut-sebut sebagai alasan untuk pulang? Dulu aku tidak pernah tahu. Bahkan tak pernah terpikir untuk memintanya. Sekarang aku menemukan titik itu.

Titik itu berporos pada sorot matamu yang kuat. Titik itu telah melahirkan banyak senyuman yang kujaga dalam diam. Titik itu nanti yang akan menyebrangkan aku dari kota kenangan ke kota ketenangan. Titik itu juga yang akan menghapus jejak-jejak kehilangan dan menumbuhkan kembali rona-rona merah pada pipi.

Aku rindu titik itu. Haruskah aku menciptakan taktik agar kamu melirik? Aku selalu berbisik dalam doa, agar setiap pandanganmu melahirkan cara untuk membuatku berulang-ulang jatuh cinta. Sebanyak apapun tanggal-tanggal yang tersilang lewat dalam pandang, aku tak ingin suatu hari nanti tercipta hari bersejarah saat luka juga kau undang. Hingga malam tak pernah manis lagi karena seisi kamarku ramai oleh tangis.

Untukmu yang terlalu mencintai ‘suatu hari nanti’, aku ingin mengaminkan keindahan rahasia Pencipta. Tidak akan ada yang tahu tentang perkara hari esok, cukup pejamkan mata dan nikmati hari ini. Angan terlalu tajam untuk kita telan buru-buru. Pelan-pelan saja. Setidaknya aku bersyukur, aku menemukan titik itu. Semoga kita menyatu sebagai garis yang tak terputuskan.

(Duet puisi, untuk @fallenvioletz)

Potret

Di sebuah bidang datar tanpa gerak, kini kamu tak lagi sendiri. Ada gembira yang begitu tampak, sebab sela-sela jemari yang sisa sudah terisi. Pada sebuah bidang datar berukuran kecil, sepasang mata menatap dua sungging senyuman tanpa beban. Barangkali begitu bahagianya ketika telah menemukan pelabuhan pilihan. Barangkali begini rasanya ketika menemukan ruangan kosong yang telah berpenghuni. Malam kini lebih sering mencatat tentang tetesan air mata, dibanding senyum rahasia dan keberadaan sebuah rasa.

Potret-potret itu berbicara tentang raut bahagia dan rekaman peristiwa yang mungkin sulit terlupa. Sedangkan disini aku meratap lama, mengakari rasa yang tak pernah bisa ku akhiri, sambil menimang-nimang angan bahwa masih tersedia sebuah kemungkinan. Ini pilihan sulit. Aku tak pernah bersedia duduk di posisi ini. Menikmatimu hanya lewat senyuman yang terekam oleh potret-potret itu, tak bersuara menjaga rasa yang selalu terpenjara. Sedangkan perempuanmu, bebas memiliki pria yang selama ini tak bisa kugapai. Kamu.

Seandainya ada satu pinta yang boleh disetujui semesta, aku ingin bertukar posisi dengannya. Meski sekali saja. Agar aku tahu apa rasanya berbagi bahagia.

Sayangnya, keinginanku terdiri dari dua hal: mimpi yang ketinggian, dan juga harapan yang kehabisan kemungkinan. Tidak sampai terlalu lama sepertinya aku dibiarkan untuk terus berangan. Sebab, kenyataan datang bersamaan dengan sebuah berita tentang kesedihan. Mendamba kita yang bersisian hanyalah sebatas dambaan, memiliki waktu untuk bersama dihabiskan hanyalah sebatas khayalan. Sebab, setidakmungkin itu kita untuk benar-benar ada. Sesulit itu perbedaan untuk ditiadakan. Sedangkan, sebahagia itu kalian untuk dipisahkan.

Pada potret itu, berulang-ulang kekagumanku datang. Berulang-ulang pandanganku tak pernah mau pulang. Berhenti disitu saja. Mengintaimu, mengingatmu, mengikat pandangku dan berulang-ulang mencintaimu. Pada potret yang sama, berulang-ulang aku patah hati. Berulang-ulang aku cemburu melihat kebersamaan kalian. Berulang-ulang rasa sakit itu menjadi pengganjal. Pengecutkah aku? Salahkah masih mengharapkan yang lebih-lebih? Salahkah beriuh hebat soal sosok yang tak sulit ku raih?

Ingin menyingkirkan potret yang menyertakan kalian, tapi membuangnya pun sulit. Setengahmu, setengah dia, kini telah jadi satu. Jika menutup mataku dari perempuan itu, sama saja menyeleksi kamu. Sebab sekarang, kamu dan dia adalah dua hal yang tak terpisahkan. Lalu, bagaimana mungkin aku kuat jika diharuskan mengangankan keduanya? Barangkali bahagia memang harus belajar menerima.

Aku harus belajar berjuang menemukan bahagiaku sendiri, bukan berdiam pada luka yang akhirnya masih entah. Kini mendapatkanmu bukan hanya tak bisa, namun juga tidak boleh. Tidak mungkin aku merusak senyuman yang dengan alasan cinta. Tidak mungkin aku menunggu tanpa berbuat apa-apa. Maka, pertahankan saja senyum kalian pada potret itu. Aku akan belajar mencari cara menyunggingkan milikku sendiri.

Kalian akan selalu jadi potret warna-warni yang terus berdaur abadi. Sedangkan kita, hanya akan jadi klise yang tak pernah jadi tercetak. Karena jelas-jelas kamu hanya akan memikirkan dia dan selalu aku yang tersingkirkan pada akhirnya. Waktu tak kenal habis pada dunia kalian. Kalian pun takkan butuh arloji untuk menyelesaikan temu.

Aku inginnya, menginginkanmu yang juga menginginkanku. Tapi jikalau ini hanya mimpi, biarkanlah ini jadi penidur yang paling ahli.

(Duet kolaborasi - aku dan @estipilami, masih tentang rasa yang tak terucap)

Firasat

Sebelum peristiwa manis itu dimulai sepekan lalu, aku tahu hari itu akan cepat berlalu. Maka aku merekam segalanya dalam ingatan. Sebut saja ini firasat, sebelum perpisahan bergerak lebih cepat.

Senyummu itu sumber kekagumanku, ratusan hari aku duduk di sebelahmu dan menikmati hal yang satu itu. Lagi-lagi tanpa kamu tahu. Bahumu adalah pelabuhan tempat kepalaku selalu ingin terjatuh tak sengaja. Dan hari itu aku melakukannya. Semesta mengirimkan lagi bahasa-bahasa yang tak kumengerti, seperti kau ingin terculik pergi.

Semula, semua berjalan lebih dari baik-baik saja. Senyummu dari hati, senyumku lebih gembira lagi. Namun, bahagia yang berlebihan selalu punya harganya sendiri. Barangkali dengan kepergianmu, baru bisa kulunasi.

Kamu dekat tapi terasa lebih jauh dari yang terlihat. Kamu ada tapi terasa lebih tiada dari kenyataannya. Ah, bahkan perasaanku saja sudah bisa mengira, bahagia di dekatmu seperti ini bukan untuk selamanya. Semesta semestinya tahu, menoleh pada yang selain kamu bukan keahlianku. Semesta sudah pasti tahu, memang langkahku tak seharusnya mengarah padamu.

Aku tak selalu mengerti semesta, dengan segala permainannya. Aku lebih tak mengerti kamu, dengan perhatian sementaranya. Hingga akhirnya aku semakin tak mengerti tentang kebersamaan yang belum tergapai, namun sudah harus selesai. Kamu hadir tiba-tiba, tanpa aba-aba. Kemudian pergi tanpa mengucap apa-apa. Paling tidak, beri aku pemberitahuan, supaya aku tahu hatimu telah pindah haluan. Paling tidak, beri aku tamparan, supaya aku tahu bahwa kita sudah tak lagi miliki harapan.

Hari ini adalah saksi dari ratusan hari perjalanan hati menginginimu jadi penghuni. Ingin rasanya meleraikan pikirku tentang ketidakmungkinan yang mengada-ada dalam kepala. Tapi korneaku bekerja terlalu baik, mata menangkap kamu dan dia bercengkrama dengan mesra. Tangan yang terbiasa mengayun bermain melingkar di bahuku, malam ini kau gunakan memainkan tangannya. Sakitku lebih perih dari serangkai aksara ini. Aku tidak apa-apa dengan retaknya hati yang terlalu tiba-tiba. Tapi mengapa harus lahir peristiwa sepekan lalu yang begitu manis? Itukah tujuanmu menyakitiku dengan manis?

Ingin rasanya lari sejauh mungkin, menghindar dari pemandangan di depanku. Dan terjun dalam lautan airmata sebebas-bebasnya. Selepas-lepasnya.

Apa ini yang seharusnya terjadi padaku? Yang seperti ini? Mencintai tak tahu berhenti, tapi selalu ditinggal ketika rasanya hampir memiliki. Menjadi yang pintar mengobati pun percuma, jika aku kelak gagal di cinta yang lain lagi. Tapi aku tak mau yang lain. Sebab yang lain tentu bukan kamu.

Apa ini maksud daripada semesta?

Memberikan semacam firasat, supaya aku mampu melepasmu yang bukan lagi untuk sesaat? Apa ini alasan di balik segala kedekatan? Supaya aku menyadari bahwa yang sudah lama akrab, belum tentu bagian dari sebuah jawab?

Bahagiakah kamu bersamanya? Sebab, sepertinya sudah tak perlu lagi kuminta, agar kamu mendapat apa yang sudah kamu punya. Benar atau pun tidak, mulailah jalani hari-hari barumu dengannya. Biar hati kecil mulai terbiasa untuk melepas dengan rela.

Biar tak perlu kucari-cari apa yang telah tiada.

 
(Sebuah kolaborasi, serangkai rasa yang tercipta atas jemari kami - @lovepathie, @estipilami dan @idrchi)

Kamu Tidak Pernah Tahu

Tadi malam, barisan-barisan puisimu menculikku dalam sebuah labirin perasaan

Aku tersesat disana

Dengan menuliskannya, seolah-olah hanya kamu yang paling ahli soal merindu. Sebenarnya kita sama-sama paham soal rindu, sampai akhirnya kita tahu bahwa rindu tak cukup kuat untuk melahirkan sebuah temu. Bahkan, bukan ‘temu’ jurus terjitu untuk menghapus sebuah rindu. Tapi saat adamu tak terasa sementara, rindu itu akan hilang selamanya. Aku memang tak bisa menjanjikan yang satu itu, tapi rasakanlah, rinduku juga sebesar itu.

Terlalu istimewa jika namaku terbungkus dalam doamu. Perlu menghabiskan berapa ramuan rindu untuk melipat jemarimu? Kamu selalu bicara tentang ‘suatu hari’ seakan-akan tak punya kesempatan di masa ini. Kamu selalu bicara soal kehilangan tanpa berusaha memilikiku seutuhnya. Jika kehilangan itu tiba, berarti kamu pernah membiarkan celah seseorang untuk mencuriku.

Kamu tidak akan tahu, Tuhan mungkin sedang menyiapkan kejutan untukmu. Dia benar, kamu memang perlu bersabar. Mungkin tiadaku adalah jeda penguji kekuatan hati. Mungkin tiadaku ini pembiak rindu agar bertumbuh lebih hebat. Mungkin tiadaku adalah jalur panjang untuk menemukan bahagiamu dan mungkin tiadaku ini adalah karpet merah penyambut sosok barumu.

Kamu tidak akan pernah tahu.

Mungkin tiadaku ini adalah persiapan ‘kita’ yang lebih baik lagi di suatu hari nanti. Jika nanti benar-benar ada sehari lebih lama dari selamanya, aku ingin setuju itu mampir ke tempat kita. Kamu, masih melatari kemana mataku pergi. Tenang, semuanya akan berjalan baik-baik saja meski porosmu bukan lagi aku. Kamu tidak akan tahu, apa yang sedang Tuhan siapkan di meja kerjaNya untukmu. Bersiaplah.

( #duetpuisi bersama @fallenvioletz)

Pukul Lima Sore

Sore ini seperti anak angsa yang buruk rupa. Dari sore-sore kita yang biasanya, hari ini kamu benar-benar tak ada. Dua jam sudah aku membiarkan senja melewati waktu paten saat biasa kita memuja keelokannya. Kamu tidak datang, tapi malah ‘kecewa’ yang kau undang untuk duduk bersamaku.

Mengapa jendela itu tiba-tiba melampirkan tetes-tetes hujan sebagai penghiasnya? Seakan-akan mereka berlomba mengajakku berairmata. Aku disini murung, saat kau menghancurkan seisi relung. Bukan soal pergimu, bukan soal tiadamu, tapi tentang akhir yang tak pernah beriringan dengan anganku. Bukan tentang pertengkaran yang melonggarkan pertemuan, tapi hanya hadirnya sosok baru yang berhasil menculik hadirmu.

Selama bertahun-tahun, pukul lima sore kita tak pernah habis menciptakan cerita-cerita manis. Jika dulu itu yang melukis senyumku, pukul lima sore itu juga yang kini akan menjadi muara penuh tangis. Mengapa kau hadirkan jika kini segalanya harus usai tanpa suatu kehadiran?

Kemana pukul lima sore kita? Jika ada yang bertanya, aku harus jawab apa?

Kini arloji telah jadi hal yang paling kubenci. Mengingat waktu, mengingatkanku bahwa kamu takkan pernah tiba lagi di depanku. Karena pukul lima soremu telah menjadi miliknya, malaikat barumu. Hal-hal yang berkaitan denganmu terlalu indah melekat dalam kepala. Jika dulu aku kau tawarkan rekaman untuk mengingat segalanya, harusnya juga kau sediakan penghapus memori untuk bersiap-siap kala kau sudah menjadi miliknya.

Bodoh saja aku masih disini, menunggu yang telah menemukan orang lain. Kenangan sedang menyeretku pulang, sedih mengiringi perjalananku. Aku akan memulai pukul lima soreku, siap atau tidak. Melepasmu adalah bagian tersulit, tapi merelakanmu lebih-lebih. Tapi aku sedang mempelajarinya. Selamat menikmati pukul lima sore tanpaku.

Ketukanmu membuat percayaku membukakan pintu hati. Namun setelah seisi ruang diambil alih olehmu, porak-porandalah hati karena semudah itu kau pergi.

— @lovepathie

Entah aroma, entah potret-potret itu, entah lagu dan entah kamu. Semudah itu mereka bisa mengembalikan rekaman peristiwa, sesederhana itu aku merindukan kita

— @lovepathie

Seusai Temu

Seperti apa sayang, rasanya di antarmu pulang? Percakapan, tawa yang mengudara, lantunan pengiring perjalanan. Mana mungkin aku menolaknya? Hanya berjarak beberapa jengkal, waktumu bisa kucuri sebentar. Di tengah-tengah aktivitas hari yang begitu sibuk, kita melintasi seluruh pergerakan kota tanpa kuatir akan apa-apa. Saat di sampingmu itu dia yang kau cinta, bukankah itu sudah lebih dari cukup? Tidak ada yang lebih membahagiakan, bukan?

Aku berdoa agar macet itu tiba khusus untuk kita. Aku berdoa agar itu tujuan semesta agar memperlama pertemuan kita. Mungkin kamu berpikir ini terlalu sederhana untuk dijadikan sebuah doa atau hadiah. Tapi sungguh, dengan begini saja kamu sudah berhasil membuatku tersenyum lebar. Saat ucapmu mulai membelai sudut-sudut hatiku yang sepi, aku akan merona malu sambil memalingkan wajah ke jendela. 

Esokku pasti akan terdaur ulang. Bahagia akan diperpanjang entah sampai kapan. Dan kamu akan membingkai senyumku, selama adamu terasa. Sungguh aku tak ingin lebih banyak bermimpi. Tolong jadikan ini nyata dan berarti. Meski hanya sekali.

Terus Seperti Itu

Aku akan lebih banyak diam. Lebih banyak menerima. Lebih banyak rela. Lebih banyak kehilangan dan lebih banyak terluka. Aku akan lebih banyak diam, sementara kamu tak perlu tahu apa-apa. Aku akan lebih banyak mengadu pada Penciptaku. Aku akan bicara soalmu sebebas-bebasnya, cukup dengan Dia. Aku akan lebih banyak terlihat baik-baik saja di depanmu. Agar bahagiamu bebas berkeliaran, sementara milikku terpenjara pada kehilangan yang paling sunyi. Aku akan lebih banyak menunduk untuk mengacuhkanmu, meski dengan menatapmu itu nyawa terbesarku. Aku takkan tega membiarkan wajahku terlihat penuh airmata saat melepasmu tanpa aba-aba. Ketidaktahuanmu itu sungguh mericuhkan duniaku yang rasanya ingin bersuara menunjukkan semua. Tapi tak semuanya harus terlihat, tak semuanya harus terungkap, meski harus tahunan atau selamanya dijaga. Tak apa, mungkin begini seharusnya cinta diperankan. Padamu, olehku.

Tidak ada yang tahu sebesar itu perasaanku. Tidak ada yang tahu bahwa sebegitu berharganya satu pertemuan yang menghadirkan kamu. Tidak ada yang tahu bahwa bersebelahan denganmu, itulah yang kutunggu. Kamu asing dengan duniaku dan duniamulah yang membiasakanku dengan keberisikan akan dia. Mungkin ini saatnya menutup telinga dari suara-suara yang menggoreskan luka baru, ini saatnya kepergianku. Ini saatnya aku membawa pergi hati dan seisinya agar terobati. Lebih cepat angkat kaki, lebih baik. Aku tak ingin membiarkan perulangan ini melukaiku berulang-ulang dan aku hanya akan menanggapinya dengan sebuah ‘kembali’. Semoga ini tidak akan terjadi.

Kebetulan

Ada yang lebih juara menjadi penyimpan rasa tanpa suara.

Sebut saja aku.

Memahami tiap gerik yang kau ciptakan, memeluk tiap ucapmu dalam ingatan dan memilikimu meski baru dalam angan-angan. Duduk saja disana, aku memandangimu sambil terpikat lebih dalam. Ada satu yang hal sulit kutolak, segala yang semesta tawarkan dalam bentuk kebetulan. Kebetulan kamu hadir, kebetulan bertemu dalam sebuah pertemuan, kebetulan saling berkenalan, kebetulan terciptalah percakapan, kebetulan aku jatuh cinta denganmu, kebetulan kita dibungkus dalam sesederhananya perasaan yang lahir, kebetulan aku harus selalu terus melihatmu, dan kebetulan aku tak menemukan tombol untuk menghentikan rasa yang ada.

Tadinya, kebetulan-kebetulan itu terasa sakral. Tapi kebetulan memang hanya seonggok kebetulan. Tidak lebih. Dan harusnya disitulah kau nyalakan secepatnya radar tahu diri. Bahwa kebetulan takkan berarti apa-apa jika berujung pada hati yang telah berempunya. Kebetulan hanya sebuah repetisi, bonus bagi hati. Buatku, mungkin kebetulan hanya sebuah layar kaca yang bebas menyodorkan cerita mana buat para penonton setianya. Kebetulan hanya akan membuatmu tersenyum dibawa terbang oleh ekspektasi yang ketinggian. Kamu memang butuh kepastian yang bukan lagi bagian dari suatu kebetulan.

Aku harap kita tak hanya sebuat kebetulan, tapi dua pasang yang memang telah digariskan. Menunggu garis edar kita berubah dan mempersatukan aku dan kamu. Semoga.

Kadang aku gemas pada dua yang seharusnya bisa memiliki tapi justru malah memilih melepas dan mengakhiri semuanya.

—@lovepathie

Curilah kebahagiaanku. Jika memang dia diperuntukkan menjadi milikku, pasti akan kembali suatu saat nanti.

—@lovepathie

Ternyata kamu tidak butuh serangkai kebetulan, tapi kepastian.

—@lovepathie