@lovepathie
Terima kasih untuk suratnya, Agatha!

Malam itu saya lagi sendu-sendunya ditemani rindu. Tiba-tiba seorang sahabat bernama Agatha mengirimi sepotong surat.

Hello, dear.

Terimakasih sekali lagi untuk menggenggam tanganku dan mengingatkan saatnya untuk berhenti. Kamu benar, korneaku terlalu terpaku dan memburamkan fokus lainnya. Just a shame, pekerjaanku saat ini mampu mengalihkanku dari orang -orang yang paling berarti, salah satunya, kalian.

Such a triggering moment, to reminds how we sat at my car in silence, just to cherish our togetherness. How we visited our ‘secret park’ just to tease you and no one knows. How we sat at canteen and ate everything we want. How we teased each other, how we shared, how we…
Ah, it wont be enough to describe those sweet things.

My life turns out crazier and messier, i think. How about you, my dear. How’s live? Does it hurts you? I hope not. I would be pissed off if someone / something break my dear to tears. Just promise me that you’ll take a good care of yourself and we will meet up soon, will you?


Biasanya saya yang kirimin beginian buat dia, atau beberapa orang lainnya. Pas selesai baca, air mata turun semua. Selalu percaya, apa yang dibuat dari hati pasti sampai ke hati. Buktinya tulisan ini. Sederhana tapi langsung kena tepat pada sasarannya. Mungkin menulis itu melegakan, tapi ketika diberi surat seperti ini rasanya semacam dipeluk berlipat-lipat ganda.

Terima kasih, Agatha Puteri :’)

Sahabat terhebat

(Bali setahun lalu :’))

Sahabatan udah empat tahunan. Masing-masih dari mereka punya peran. Dari hal terpahit sampai termanis sudah pernah terlewatkan. Salah satu obat paling ampuh ya, pelukan. Seumur-umur sahabatan, paling gak bisa nahan kangen-kangenan tuh sewaktu ingat dulu tiap hari ketemu dan sekarang susah banget atur waktu. Pernah mikir, pasti ada faktor-faktor yang bikin kita nantinya akan saling menjauh dan jadi bener-bener jauh. Tapi persahabatan gak punya umur. Jarak juga bukan tolak ukur. Buktinya sekarang kita masih akur, meskipun pola pikir kita kadang saling berbentur. Tapi ada buat satu sama lain selalu teratur. Aku selalu bilang pada mereka, “Bahu ini siap menadahi air matamu. Telingaku khusus untuk mendengarkan ceritamu. Kedua tanganku sigap memelukmu. Bahagia bisa kau cari diluar sana. Tapi jika dunia mengusir bahagiamu, akan ku pastikan selalu ada disitu. Disampingmu.” Selama punya sahabat, hargai adanya, syukuri masih bisa bersama. Kadang yang mereka perlukan hanya pelukan, lekas berikan.Sahabat bukan berapa lama kamu mengenalnya. Tapi berapa lama kamu mengerti tentangnya, ada untuknya, berbagi segalanya.

“I asked God why He created love without the painkiller, and He said “I did, you usually call them best friends.” - Falla Adinda.

Untuk Agatha Puteri, Cindy Fertina, Stephanie Naomi. Terima kasih karena jadi sahabat terhebat. *peluk erat*